Pojok Kampus Agama, Ketidakadilan, dan Kemiskinan

Agama, Ketidakadilan, dan Kemiskinan

105

Kemiskinan merupakan problem yang terjadi di indonesia. Bentuk jama’ (banyak dalam bahasa Arab) kata miskin adalah masaakin seolah-olah menggambarkan kondisi indonesia sekarang yang di dalamnya banyak orang miskin. Selain realitas kemiskinan, kondisi lain yang memprihatinkan berkaitan dengan negara kita yang hutang terus melilit, pengangguran yang terus menggunung, kewibawaan hukum yang semakin runtuh, berbagai bencana alam, dan kerusuhan yang semakin menyengsarakan rakyat.

Semua itu diperparah oleh perilaku sebagian aghniya’ (pemilik harta dan modal), umara (pengambil kebijakan/pemerintah), atau bahkan ‘ulama (para tokoh agama) yang tidak mempunyai kepedulian atas nasib yang diderita sebagian besar masyarakat. Mereka (sebagian aghniya’, umara, dan ‘ulama) tidak bergerak untuk menyentuh problem penting dan mendesak bangsa ini, seperti memperjuangkan nasib petani yang dirampas haknya, pedagang yang tergusur kiosnya, para guru dan prajurit yang terabaikan haknya, kaum minoritas yang selalu terancam, bocah-bocah kecil yang tak mampu mengenyam pendidikan, sehingga tersungkur dalam “kehidupan gelap” dan sebaginya.

Mereka lebih mengagumi model kearifan supra-manusiawi, dengan mengeksploitasi air mata kemunafikan sebagai upaya “pencucian dosa” daripada serius mengeksplorasi problematika kemanusiaan yang menyangkut harga diri dan tingkat kesejahteraan serta eksistensi para dhu’afa (masyarakat miskin, lemah, marjinal) sebagai seorang manusia.

Agama dan Kemiskinan

Hal yang perlu mendapat perhatian adalah ada tidaknya kolerasi antara “kesalehan ritual” dengan “kesalehan sosial” yang dapat menggerakkan kehidupan ekonomi kerakyatan. Adakah sebuah etos dalam nilai agama yang akan menggairahkan partisipasi aktif kepada penganutnya dalam menghadapi problema kemiskinan ?

Pertanyaan di atas perlu dilontarkan karena masyarakat sering terjebak pada pola keagamaan yang bersifat simbolik, tetapi menanggalkan nilai-nilai substantif (mendasar) agama. Padahal, agama menekankan pembebasan kemanusiaan dari berbagai belenggu kemiskinan dan penindasan. Para Nabi pembawa risalah agama yang diturukan ke dunia selalu berwatak revolusioner untuk mengubah struktur yang tidak adil, timpang, dan menindas.

Masyarakat tersungkur di tengah kota yang terkeping sebagai penghuni kekumuhan dan terpuruk dalam jurang ketidakadilan di semua bidang kehidupan, baik politik, hukum, ekonomi, maupun budaya. Kemiskinan mengakibatkan eksodus besar-besaran dari wilayah desa ke perkotaan. Hal ini dibarengi dengan kehancuran rumah tangga dan meningkatnya tindak kriminal yang dilakukan orang miskin seperti perampokan, pencurian, dan lain-lain.
Tindak kriminal juga dilakukan orang kaya yang hatinya miskin dari nilai iman.

Mereka melakukan berbagai bentuk kejahatan dalam tindak korupsi, penyesatan opini publik, pencatatan pajak yang tidak benar, dan sebagainya. Perlu ada konsepsi yang cocok dan upaya sinergis dari berbagai pihak untuk menghadapi problema di atas. Khususnya problem kemiskinan dan penindasan sebagai agenda bersama.

Oleh : Ma’bad Fathi Mu’tazza, Peneliti Muda LeSAN (Lembaga Studi Agama dan Nasionalisme)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here