Pojok Kampus Daya Tarik Ulama dalam Pemilu

Daya Tarik Ulama dalam Pemilu

114

Pada kamis 11 April 2019 lalu, warganet dikejutkan dengan video yang ditayangkan oleh TV One yang kemudian viral di Youtube. Video itu berisi pertemuan da’i kondang Indonesia Ustadz Abdul Somad, yang kerap disapa UAS, dengan capres paslon 02 Prabowo Subianto. Di akhir dialog dan pertemuan itu, Ustadz Abdul Somad memberikan 2 cendera mata, yakni parfum dan tasbih.

Tak hanya di kubu paslon nomor 02 saja, tak lama setelah itu pada Sabtu 14 April 2019, paslon 01 Joko Widodo bertemu dengan KH Maimoen Zubair dan Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Ali Yahya sebelum datang ke konser putih bersatu di GBK. Di akhir pertemuan, Joko Widodo yang Akrab disapa Jokowi pun mendapat hadiah dari 2 Ulama karismatik NU itu berupa surban dan tasbih.

Tak lama setelah kejadian tersebut, sesuatu yang ditakutkan muncul, banyak sekali kabar simpang siur tentang kunjungan tersebut, beradar berbagai macam statement yang tercipta pasca pertemuan para ulama’ dengan (calon) umara’ itu. Mulai dari ocehan belaka hingga menjelma menjadi sebuah data, entah itu yang diusung data palsu atau fakta. Rakyat pun semakin bingung, Dampaknya, sebuah hari yang dikatakan hari tenang menjadi hari yang tegang.

Di saat pesta politik sedang gegap gempita, berita ini seolah menambah sorakan pesta politik semakin membahana. Alhasil berita tersebut semakin mengikis kepercayaan rakyat terhadap para ulama dan para calon pemimpinnya. Walaupun akan sangat berimbas pada pemilu 17 April mendatang, namun adakah dampak positif terhadap diri para Ulama tersebut? Bukankah terkesan mencari muka atau indikasi negatif lain terkait dengan tindakannya itu?

Di dalam sebuah Hadis, Rasulallah Saw bersabda: “Seburuk-buruknya ulama adalah mereka yang mengunjungi para pemimpin, dan sebaik-baiknya para pemmpin adalah mereka yang mengunjungi ulama. Sebaik-baiknya pemimpin adalah ia yang berada di depan pintu rumah orang fakir, dan seburuk-buruknya orang fakir ia yang berada di depan pintu rumah pemimpin.”

Hadis ini seakan-akan relevan dengan kasus yang terjadi di Indonesia baru-baru ini.Terlepas dari niat masing-masing pihak terkait, banyak orang merasa puas hanya dengan memahami makna redaksi hadis ini secara tekstual, bahwa seorang Ulama tidak seharusnya mengunjungi para pemimpin agar tidak menjadi seburuk-buruknnya ulama. Jika demikian cara memahami hadis ini, bukankah justru di kemudian hari para ulama tidak akan pernah mengunjungi para pemimpin, lalu siapakah yang akan menasehati mereka prihal keagamaan, atau tentang kebijakan yang mungkin salah?

Menurut Jalaluddin Ar Rumi, makna konteks syarru al-ulama’ dari hadis tersebut adalah para ulama yang bergantung hidupnya kepada para pemimpin/umara’. Semua yang mereka lakukan demi mendapatkan simpati dari para pemimpin. Sementara ilmu yang mereka miliki, sejak awal diniatkan sebagai media agar mereka dapat bercengkrama dengan para pemimpin, agar diberi penghormatan dan jabatan yang tinggi.

Ketika ulama terpelajar dan berpendidikan takut pada para pemimpin dan hanya ingin dipuji, maka ia akan menjadi tunduk pada kekuasaan dan arahan sang pemimpin. Seperti keledai yang dipancing tuannya dengan apel, ia mengikuti kemana arahan sang Tuan terlepas itu dijalan yang gelap atau penuh lumpur kotor. Begitulah visualisasi para ulama yang mencintai dunia atau syarru al-ulama’.

Jika demikian, tidak peduli apakah ulama itu yang datang mengunjungi pemimpin atau pemimpin itu yang mengunjungi ulama, tetap menjadikan ulama sebagai pengunjung dan pemimpinlah yang dikunjungi.

Sementara ketika seorang ulama menuntut ilmu bukan demi seorang pemimpin, melainkan menuntut ilmu karena Allah, tidak pernah mengharapkan sesuatu sealin ridha Allah sejak awal hingga akhir. Ia tidak akan gentar melawan kebathilan yang ada, karena kebathilan adalah musuh besar dari ilmu itu sendiri, Ulama semacam ini memiliki akal yang dapat mengontrol dan mencegah dirinya dari perbuatan buruk.

Ketika ulama ini datang mengunjungi pemimpin, maka sejatinya dialah yang dikunjungi dan pemimpin adalah pengunjungnya. Karena dalam segala kondisi, pemipin itulah yang memperoleh pertolongan-pertolongan dan banyak manfaat darinya. Ulama ini tidak butuh pemimpin sebagai suporter utamanya. Dan tidak butuh suatu penghargaan dari para pemimpin.

Dari apa yang dipaparkan di atas, seharusnya bisa digunakan untuk membedakan ulama syar dan ulama khair, bukan asal menuding jika seorang ulama yang mendatangi para pemimpin adalah indikasi yang buruk. Atau dengan mudah mengatakan bahwa ia adalah ulama yang cinta dunia, semoga kita termasuk orang-orang yang mampu membedakan keduanya.

Namun, sebaliknya kita juga perlu cermat untuk menilai hubungan keduanya. Terlebih, dalam konteks politik sebagai saat sekarang yang mendekati waktu pemilu, ulama memiliki daya tarik tersendiri yang dapat dimanfaatkan oleh oknum tertentu untuk menarik suara dan dukungan. Sebab, harus diakui bahwa ulama sesungguhnya juga pemimpin yang memiliki pengaruh dalam konteks umat. Mereka menjadi panutan umat. Oleh sebab itu, penting kiranya kita membaca dan memahami konsep ulama al-khair dan ulama al-syu’ yang disampaikan Imam al-Ghazali atau potret filsuf dan sofis yang ada pada masa Yunani kuno, sebagai bekal untuk memilih pemimpin terbaik dalam kontestasi Pemilu. Selamat berijtihad!

Oleh: Dea Rahmatika, Mahasiswa Magister Ilmu Agama Islam pada Program Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, Peneliti of Center for Democracy and Religious Studies (CDRS) Kota Semarang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here