Berita Delapan Perwakilan Mahasiswa Berdialog dengan Wakil Rektor 3 dan Kepala PPB

Delapan Perwakilan Mahasiswa Berdialog dengan Wakil Rektor 3 dan Kepala PPB

113
Dialog pada saat aksi demonstrasi berlangsung.

Semarang-militan.co, Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang menggelar aski demonstrasi di Gedung Rektorak Kampus pada Kamis (02/03/2019). Masa aksi ini tergabung dalam aliansi Keluarga Besar Mahasiswa Walisongo (KBMW) yang terdiri dari berbagai elemen mahasiswa di antaranya: DEMA-U/F, SEMA-U/F, LPM, PMII, HMI, KAMMI, IMM dan lain-lain.

Pada saat aksi berlangsung, Koordnitor aksi Aghisna menginformasikan kepada masa aksi bahwa Rektor kampus ternyata sedang tidak berada di kampus.

“Tenyata informasi bahwa hari ini ada rapat pimpinan di kampus ternyata bohong. Rektor di dalam tidak ada, yang ada hanya Wakil Rektor 3, Pak Suparman,” ucap Agishna dalam orasinya.

Akhirnya seketika itu, Wakil Rektor 3 menemui masa aksi dan memberi tanggapan. Namun, karena bukan Rektor yang menanggapi, emosi masa aksi pun tidak bisa dibendung, sehingga terjadi aksi saling dorong.

“Ayo, Pak. Kita ajak perwakilan mahasiswa untuk dialog di dalam. Kondisi masa aksi sudah tidak kondusif lagi,” tegas Pengawal Wakil Rektor 3.

Masa aksi membakar ban dan boneka mayat sebagai protes terhadap ketidakhadiran Rektor.

Ada sekitar 8 (delapan) perwakilan mahasiswa yang masuk ke dalam untuk melakukan dialog/audiensi dengan Wakil Rektor 3 dan Kepala PPB. Delapan perwakilan tersebut berasal dari DEMA- U, SEMA-U, PMII, HMI, dan KAMMI.

Dalam dialog tersebut, Aghisna selaku Koodinator Aksi dan sekaligus Ketua SEMA-U menyampaikan bahwa ada 8 (delapan) tuntutan KBMW terkait prolematika pelaksanaan tes TOEF-IMKA.

“Satu tuntutan besar kami adalah hapus SK Rektor Tahun 2016 dan tujuh tuntutan turunannya adalah jadikan kelulusan MK PIB sebagai syarat tes toefl/imka, pertegas peraturan rekomendasi percepatan tes toefl/imka melalui SK Rektor, Penambahan tendik dalam PPB yg representative, ganti kepala PPB, penambahan kuota pendaftaran minimal 10 kelas, transparansi aliran dana prndaftaran les maupun tes toefl/imka, dan memberikan simulasi tes toefl/imka secara gratis,” ujar Aghisna.

Pada saat dialog tersebut berlangsung, Abdurrahman Syafrianto sebagai perwakilan HMI Korkom Walisongo menegaskan bahwa aksi demonstrasi ini terjadi akibat kekecewaan mahasiswa terhadap hasil audiensi dengan pihak Rektorat dan jajarannya pada Senin (11/03/2019).

“Pada saat audiensi, kami sudah menyampaikan beberapa tawaran solusi terkait problematikan pelaksanaan tes TOEFL-IMKA. Namun, dari pihak Rektorat dan jajarannya selalu punya alibi untuk menolaknya. Karena itu, jika kampus tidak bisa mengatasi problem TOEFL-IMKA ini, maka SK Rektor tahun 2016 itu lebih baik dihapuskan,” tegas Abdurrahman. (Red.Anto)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here