Pojok AbaNa Esensi Ajaran Islam Tentang Ilmu Pengetahuan

Esensi Ajaran Islam Tentang Ilmu Pengetahuan

644
Banner infografis Alquran Ilmu Pengetahuan. (Militam.co/Mirza)

Berulangkali al-Qur’an menegaskan bahwa Allahlah yang mengetahui, sedangkan manusia tidak mengetahui (al-Baqarah: 216, 232, Ali Imran: 66, al-Nahl: 74, al-Nur: 19). Pengulangan yang berkali-kali itu tentu merupakan penekanan atau penegasan agar benar-benar mendapatkan perhatian serius. Pengetahuan yang ada pada manusia, sejatinya hanyalah karena Allah mengajarkannya (al-Baqarah: 31, al-‘Alaq: 5), dan itu pun hanya sedikit saja (al-Isra’: 85) dari ilmu Allah yang tiada batas. Dengan kata lain, pemilik mutlak ilmu atau pengetahuan adalah Allah Swt.. Manusia mendapatkannya sebagai anugerah, agar manusia bisa keluar dari kesesatan (al-Ali Imran: 164). Karena itulah, orang yang mendapatkan hikmah, oleh al-Qur’an disebut sebabai orang yang telah mendapatkan banyak kebaikan (al-Baqarah: 269).

Ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang mengantarkan kepada pemahaman tentang kebenaran, sehingga kebenaran itu bisa diyakini dengan sepenuh kemantapan dan membuat keraguan menjadi hilang. Tanpa ilmu pengetahuan, keyakinan yang dipegang teguh tidak lebih dari sekedar dugaan (al-dhann) yang jika dibiarkan begitu saja, maka tidak memberikan kontribusi kepada penemuan kebenaran (al-Najm: 28).

Untuk sampai kepada kebenaran hakiki, diperlukan proses yang tidak pendek dan di dalamnya seringkali terjadi proses mempertanyakan. Nabi Ibrahim menjalani proses yang sangat dinamis dalam mencari tuhan (al-An’am: 75-79), bahkan kemudian memohon untuk ditunjukkan bagaimana Allah menghidupkan kembali yang sudah mati agar hatinya menjadi mantap dan tenang (al-Baqarah: 260). Nabi Musa memohon agar bisa melihat Allah dan kemudian diberikan kesempatan untuk bertajalli yang membuatnya tak sanggup (al-A’raf: 143). Dan Nabi Isa memohon agar Allah menurunkan hidangan dari langit (ma’idah) sebagai tanda (al-Maidah: 114).

Dalam proses menuju kepada ilmu pengetahuan yang memantapkan, manusia harus mengoptimalkan panca indera, lalu juga pikiran, untuk sampai kepada kesadaran bahwa alam semesta (kosmos) ini membutuhkan pencipta pertama (causa prima) dan peletak hukum-hukum yang membuatnya berada dalam keteraturan. Untuk memahami tentang dirinya sendiri (micro-kosmos) yang sangat dekat pun manusia memerlukan waktu yang juga sangat panjang dengan upaya yang sungguh-sungguh. Tanpa adanya upaya sepenuh kesungguhan, maka dalam usia yang panjang sekalipun, siapa pun tidak akan bisa mengenali dirinya sendiri. Bahkan secara faktual, selain para nabi dan rasul, bisa dikatakan tidak ada yang berhasil mengenali atau memahami dirinya sendiri. Padahal, hanya orang yang mampu mengenali dirinya sendirilah yang akan bisa mengenal Tuhannya.

Pada dasarnya, Allah Swt. memberikan ilmu pengetahuan kepada manusia agar bisa hidup sesuai dengan kehendakNya dan meraih ridlaNya. Agar manusia tidak terombang-ambing kepada ketidakjelasan, maka Allah memberikan ketetapan (kitâb). Jika Allah Swt. telah memberikan ketetapan dan keputusan, maka tidak ada pilihan lain (al-Ahzab: 36). Dengan memenuhi ketetapan tersebut, manusia tidak akan terjerumus karena dorongan nafsu sendiri untuk melakukan trial and error. Sebab, secara faktual pandangan manusia seringkali tidak mampu menangkap hakikat kebenaran, sehingga cenderung kepada sesuatu yang pada hakikatnya buruk. Sebaliknya, membenci sesuatu yang pada hakikatnya baik (al-Baqarah: 216). Dengan senantiasa berada dalam koridor yang ditetapkan oleh Allah, manusia akan bisa memperoleh ridlaNya.

Allah memberikan ilmu pengetahuan kepada manusia dengan berbagai jalan yang kemudian menentukan sifat ilmu tersebut, yaitu: naqli, aqli, dan kasyfi yang melahirkan tiga metode, yaitu: bayâni, burhâni, dan ‘irfâni. Namun, ketiganya berdiri tidak secara terpisah atau sendiri-sendiri. Ketiganya justru akan mengarah kepada—dan makin dekat dengan—kebenaran hakiki apabila berjalan berseiring atau bersinergi. Sebab, seringkali pengetahuan naqli mendorong kepada upaya untuk menemukan dan mengembangkan ilmu pengetahuan aqli. Akal manusia membutuhkan rangsangan-rangsangan yang bisa membuatnya aktif, berkembang, dan mengalami peningkatan sampai pada level akal tertinggi yang mampu menangkap pesan-pesan terdalam Allah, baik yang terdapat pada ayat-ayat qauliyah lainnya maupun yang terdapat pada ayat kauniyah.

Bisa jadi, dengan nalar an sich, manusia dapat sampai pada kesadaran bahwa segala yang nampak oleh panca indera ini memerlukan pencipta pertama. Namun, keterbatasan manusia tidak akan mampu menangkap hakikat keseluruhan alam semesta yang sangat besar, bahkan tidak atau belum diketahui batas-batasnya. Terlebih lagi tentang segala sesuatu yang sesungguhnya ada tetapi tidak tertangkap oleh pancaindera. Karena itulah, Allah memberikan panduan berupa kitab suci yang memberikan informasi-informasi tentang sesuatu yang tidak nampak (al-ghaib) maupun yang terlihat (al-syahâdah), pada sesuatu yang di luar diri manusia, maupun pada sesuatu yang ada pada diri manusia sendiri (Fushshilat: 53).

Dengan kitab itu, manusia bisa mengetahui aspek-aspek fundamental yang diperlukan dalam kehidupannya, meliputi aqîdah (keyakinan) yang meliputi ulûhiyah (teologi) dan âkhirah (eskatologi) serta segala turunannya, ibâdah, dan mu’âmalah. Pada aspek yang pertama, pandangan seluruh kitab suci yang disampaikan oleh seluruh utusan Allah adalah sama dan tidak pernah mengalami perubahan. Sedangkan pada aspek yang kedua, dari masa ke masa terjadi perubahan dengan orientasi yang sama, yakni penyembahan hanya kepada Allah. Cara teknis penyembahan itu disempurnakan oleh Nabi Muhammad saw. sehingga sampai saat ini dan sampai hari akhir nanti tidak akan pernah ada lagi perubahan. Sedangkan dalam aspek muâmalah, terjadi perubahan, bahkan walaupaun ajaran dalam bentuk doktrinnya sudah paripurna, akan tetapi dalam tataran implementasi kehidupan, perspektif dan praktisnya bisa terus berubah sangat dinamis sesuai dengan perubahan tempat dan zaman.

Konsepsi akidah dalam kitab suci yang diajarkan oleh para nabi adalah bahwa Allah merupakan satu-satunya tuhan, tidak ada sekutu atas maupun bagiNya. Islam menegaskan dalam kalimat tauhid yang terdiri atas peniadaan dan penetapan, lâ ilâha illâ Allâh, tiada Tuhan selain Allah. Konsepsi ini dijalinkelindankan dengan kepercayaan kepada malaikat, keseluruhan nabi dan rasul Allah mulai dari Nabi Adam as. sampai—dan ditutup oleh—Nabi Muhammad saw., kitab-kitabNya, dan hari akhir. Percaya kepada sebagian saja dan mengingkari sebagian yang lain dinilai menyebabkan kepercayaan menjadi batal dan sama dengan tidak percaya kepada keseluruhannya alias tidak percaya sama sekali (al-Nisa’: 150).

Konsepsi akhirat di antaranya dideskripsikan oleh al-Qur’an dengan visualisasi surga dan juga neraka dengan menggunakan perumpamaan yang intinya sesungguhnya merupakan balasan kepada segala perbuatan di dunia. Jika baik, maka dibalas yang baik. Sebaliknya, jika buruk, maka dibalas dengan yang buruk pula (al-Zalzalah: 7-8). Dalam konteks pertanggungjawaban ini, al-Qur’an memberikan konsepsi tentang amal yang mendapatkan balasan dari Allah, yakni hanya amal kebaikan yang didasarkan kepada iman yang benar. Sedangkan amal baik dalam jumlah yang banyak atau intensitas yang tinggi sekalipun, tetapi tidak didasarkan kepada iman yang benar, maka amal tersebut tidak dibalas sebagai kebaikan, melainkan dianggap sebagai tak ubahnya fatamorgana saja (al-Nûr: 39). Dalam konteks inilah, al-Qur’an mengetengahkan konsepsi untung dan rugi dalam amal (al-Ashr: 1-3). Orang-orang yang beriman dengan benar sesuai dengan tuntunan al-Qur’an akan mendapatkan keuntungan (al-Mu’minûn: 1-11). Sebaliknya, mereka yang tidak mendasarkan segala amal kepada iman yang benar, akan mengalami kerugian (al-Kahfi: 103-106).

Praktik ibadah juga telah ditentukan. Ibadah mahdlah harus dilaksanakan apa adanya sesuai dengan tuntunan yang diberikan oleh al-Qur’an dan sunnah Nabi Muhammad. Pengurangannya menyebabkan ibadah menjadi tidak sah. Sedangkan penambahannya menyebabkan perbuatan yang walaupun oleh pelakunya diorientasikan sebagai ibadah, menjadi bernilai bidah. Sedangkan segala bentuk bidah dalam ibadah mahdlah dinilai sebagai kesesatan yang mengantarkan kepada neraka. Karena itu, cara beribadah ini menuntut pengetahuan yang tak kalah mendalam, agar praktik ibadah benar-benar berada dalam koridor kemurnian hanya kepada Allah saja (al-Bayyinah: 5).

Aspek mu’amalah merupakan aspek yang memiliki ruang yang sangat longgar dan bahkan menuntut daya kreatif manusia. Namun, dalam konteks tertentu, Allah juga memberikan ketetapan yang tidak bisa diganggu gugat, seperti siapa yang boleh atau haram dinikahi (al-Nisa: 23-24), kehalalan jual beli dan keharaman riba (al-Baqarah: 275), dan cukup banyak lagi yang lainnya. Dalam aspek mu’amalah ini terdapat banyak ruang dan kesempatan untuk memicu perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Memang, untuk menjalani kehidupan dengan kualitas yang lebih baik, efektif, dan juga efisien, diperlukan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berfungsi untuk mempermudah pekerjaan manusia, bahkan sesungguhnya juga untuk melakukan desakralisasi agar tidak terjerumus kepada sakralisasi terhadap sesuatu yang sesungguhnya tidak sakral alias profan belaka. Untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, manusia harus memiliki perspektif kosmologi yang terbagi menjadi makrokosmos dan mikrokosmos. Pengetahuan yang makin baik kepada kosmos, akan membuat manusia semakin memahami hukum-hukum alam (sunnat Allah) yang berarti sangat penting untuk mengembangkan ilmu pengetahuan teknologi mutakhir. Di dalam al-Qur’an dan juga hadits Nabi Muhamamd, sesungguhnya sangat banyak ajaran yang menginspirasi untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Perspektif tentang ilmu pengetahuan, bahkan yang dikenal di Yunani sekalipun, tidak bisa dilepaskan dari kalam Tuhan. Ilmu pengetahuan dengan karakternya yang objektif, dipandang sebagai sesuatu yang masuk akal atau sesuai dengan logika alias logis. Logika sendiri berasal dari kata logos yang biasanya diartikan dengan ilmu, sehingga melahirkan sebutan-sebutan disiplin ilmu seperti biologi, antropologi, dan lain sebagai. Namun, makna literal logos adalah firman. Jadi, pandangan paling awal tentang ilmu adalah sesuatu yang merupakan firman Tuhan. Firman itulah yang memuat informasi-informasi yang membuat umat manusia mendapatkan petunjuk atau panduan, sehingga bisa bertindak dengan benar sesuai dengan keinginan Tuhan dan bisa hidup secara harmonis dengan alam semesta.

Manusia, dibandingkan dengan alam semesta, bisa diibaratkan sekedar sebutir debu saja di bumi ini. Namun demikian, al-Qur’an menuntut agar dengan pancaindera dan akal yang dimiliki, bisa melakukan pengamatan dan pemikiran yang bisa melintasi batas-batas. Seiring perkembangan peradaban umat manusia, mereka berhasil melakukan penelitian sehingga pengetahuan mereka kemudian terakumulasi dan senantiasa bertambah. Dalam memahami alam semesta ini, Allah Swt. memberikan ruang kebebasan kepada manusia untuk melakukan pengamatan dan penelitian sehingga mendapatkan pengetahuan-pengetahuan baru yang bisa digunakan untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan kehidupan yang sedang dihadapi.

Perintah al-Qur’an untuk melakukan pengamatan bahkan juga kepada pada dirinya sendiri. Sebab, di dalam tubuh manusia sendiri sesungguhnya terdapat fenomena yang sampai saat ini pun belum selesai untuk dipelajari. Al-Qur’an telah mengungkapkan sebagian yang ada pada makrokosmos ini sebagai dorongan kepada manusia untuk terus melakukan upaya meningkatkan pengetahuan dirinya sendiri dan dengan itu bisa mendekatkan diri kepada penciptaNya. Al-Qur’an misalnya memberikan dorongan ilmiah dengan mengungkapkan sebuah proses detil perkembangan janin, mulai dari sperma sampai menjadi makhluk yang baru (al-Mu’minun: 12-14). Ini sekaligus menunjukkan kemu’jizatan al-Qur’an dari sisi informasi ilmiah yang semuanya terbukti nyata. Di antaranya informasi model inilah yang menjadikan al-Qur’an menjadi sumber ilmu pengetahuan yang tidak bisa diragukan. Jika al-Qur’an mengatakan tentang segala sesuatu yang bersifat verifikatif dan ternyata terbukti benar, maka ketika menyatakan sesuatu yang tidak verifikatif, maka harus dianggap sebagai sesuatu yang diimani secara total, tanpa keraguan sedikit pun.

Dalam konteks pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, terdapat ruang yang sama untuk siapa pun, baik yang beriman dengan benar maupun yang beriman secara keliru, atau menyatakan tidak beriman sama sekali. Umat Islam, seharusnya bisa mendapatkan ilmu pengetahuan terlebih dahulu dibandingkan umat yang lain. Sebab, umat Islam tidak perlu memulai dari nol untuk mendapatkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Mereka tinggal melakukan pengembangan dari informasi-informasi yang pasti benar yang ada dalam al-Qur’an dan juga sunnah Nabi Muhammad. Karena kemungkinan untuk mendapatkan keunggulan inilah, maka al-Qur’an mendorong umat Islam untuk memiliki kesiapan dalam berlomba-lomba melakukan kebaikan yang bersifat universal dengan umat yang lain (al-Baqarah: 148). Dalam perlombaan itu, ummat Islam diharapkan menjadi ummat yang mampu menunjukkan diri sebagai umat paling unggul karena berpijak pada ajaran yang benar dan telah disempurnakan (al-Ma’idah: 3).

Jika umat Islam memiliki komitmen kuat untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi sesuai dengan semangat yang ada di dalam sumber ajarannya, mestinya mereka dengan mudah mendapatkan keunggulan dalam setiap kompetisi dalam urusan duniawi sekalipun. Nabi Muhammad dan para sahabat telah menunjukkan bahwa dengan panduan al-Qur’an mereka mampu menjadi generasi unggul, yang karena itu disegani oleh yang lain. Sejarah peradaban berikutnya juga menunjukkan bahwa ajaran Islam yang dipahami secara komprehensif bisa mendorong kepada kemajuan dan keunggulan yang membuat umat lain berdecak kagum dan bahkan berusaha untuk menirunya. Dengan keunggulan itu, umat Islam bisa mendapatkan kehidupan yang baik tidak hanya di akhirat, tetapi juga kehidupan di dunia (al-Baqarah: 201). Wallahu a’lam bi al-shawab.

*Dr. Mohammad Nasih, Pengajar di Program Pascasarjana Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ, Guru Utama di Rumah Perkaderan Monash Institute.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here