Gagasan Inspirasi literasi dari kartini

Inspirasi literasi dari kartini

57

Tanggal 21 April  diperingati sebagai hari Kartini yang identik dengan berbagai macam lomba lengkap dengan mengenakan baju kebaya sebagai simbol Kartini yang terlahir dari bangsawan Jawa Tengah. Peringatan ini pertama kali ditetapkan oleh presiden pertama Republik Indonesia Ir. Soekarno melalui keputusan presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964 pada 2 mei 1964 bersamaan dengan penganugerahan gelar pahlawan kemerdekaan nasional kepada Raden Ajeng Kartini.

Mengapa harus Kartini? Bukankan banyak sekali pejuang wanita selain Kartini yang mungkin berperan lebih dalam kemerdekaan Indonesia? Mengapa Kartini yang dijadikan ikon bagi kebangkitan perempuan di Indonesia? Memang dalam perannya Kartini tak pernah memikul senjata untuk berperang, akan tetapi ada nuansa lain yang dimiliki Karini yang bebeda dengan yang lain, bahwa Kartini berjuang bukan dengan senjata, tetapi dengan pena dan tulisannya.

R.A Kartini dilahirkan di Jepara, Jawa Tengah, pada tanggal 21 April 1879. Beliau berasal dari kalangan bangsawan jawa. Putri dari Raden Mas Adipati Ario Sosrodinigrat, seorang patih yang diangkat menjadi bupati Jepara. Sebagai putri bangsawan Kartini bersekolah di Europe Lagere School (ELG) dari sinilah Kartini belajar Bahasa Belanda. Kartini bersekolah hingga 6th lamanya, setelah itu Kartini menjalani tradisi jawa pada saat itu sebagai gadis yang dipingit.

Dalam ruang pingitan itulah beliau sangat aktif berkorespondensi /surat menyurat dengan teman-temannya yang ada di Belanda. Selain itu, beliau banyak mebaca surat kabar Semarang De Locomotief yang diasuh Pieter Brooshooft dan surat kabar atau majalah-majalah kebudayaan Eropa berbahasa belanda. Dari bacaan-bacaan itulah ia mendapatkan ide dan insirasi yang nantinya beliau akan mendirikan sekolah khusus wanita pertama sebagai aksi atas keprihatinannya terhadap pendidikan wanita.

Pengetahuan dan kepekaan sosial yang dimiliki serta kegundahan hati akan kondisi yang ada mendorong beliau menuliskan tentang kesenjangan-kesenjangan yang ada pada saat itu. Baik dari kesenjangan social yang diterima warga pribumi hingga kesenjangan yang dialami para wanita di zaman itu. Pemikiran beliau tentang kesenjangan social yang terjadi pada saat itu seringkali dituangkan dalam surat-surat yang beliau tulis.

Tak hanya kesenjangan sosial, beliau juga acapkali menuliskan tentang ketuhanan, kebijaksanaan, keindahan, perikemanusiaan dan nasionalisme. Dalam hal ketuhanan Kartini bertukar pikiran dengan Stella Zeehandeelaar, pegiat feminis Belanda dalam suratnya tanggal 6 Nopember 1899 dalam bukunya habis gelap terbitlah terang. Isi dari surat tersebut mengaskan bahwa Kartini tampak ragu dengan agamanya. Namun 3th setelah menulis surat tersebut pandangannya terhadap berubah, dan itu dituliskan dalam suratnya tahun 15 Agustus 1902. Perubahan itu terjadi berkat pertemuannya dengan Kyai Saleh Darat.

Kartini namanya harum hingga detik ini karena beliau menulis. Secara keseluruhan, ada 800 halaman tulisan-tulisan Kartini, tulisannya pun bukan berupa tulisan anak ingusan tapi berwawasan kebangsaan. Kartini menyebutkan kata “bangsa” dan “rakyat saya”, padahal Belanda belum menetapkan control atas “kepulauan Indonesia”, pada saat belum ada orang yang mendengungkan “paham kebangsaan”, Kartini telah mendengungkannya. Dia menyurati sejumlah orang berpengaruh dalam pemerintahan Indonesia dan Hindia Belanda.

Ironis sekali di masa kini, peringatan hari Kartini hanya di fokuskan pada kebaya, esensi perjuangan Kartini tereliminasi oleh penampilan. Bukan menyinggung soal melestarikan busana tradisional, hanya saja sayang jika semangat Kartini tidak tersampaikan. Kemampuan literasi Kartini pada zamannya sangat luar biasa. Kartini sangat visioner dan pandai dalam memilih diksi dalam berpendapat. Sementara yang menggelisahkan di hari ini kemampuan literasi perempuan yang kurang, ini bisa dilacak lewat cuitan-cuitan media social atau caption yang tidak nyambung. Berita hoax pun mudah sekali menyebar luas tanpa ceck dan receck.

Jasa terbesar kartini bukan terletak pada kepalan tangan menggenggam senjata atau dudk di tampuk kekuasaan. Api semangat pada setiap lembar suratnya jadi sumber inspirasi perjuangan banyak perempuan generasi berikutnya. Surat-surat kartini, sebagai buah dari pikirannya dan cerminan situasi batin kaum perempuan sezamannya, sumber otentik yang tak bisa tergantikan oleh legenda atau dongeng keperkasaan perempuan di masa lalu.

Oleh: Dea Rahmatika, Peraih Beasiswa Unggulan Monash Institute pada Magister Ilmu Agama Islam pada Program Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, Peneliti of Center for Democracy and Religious Studies (CDRS) Kota Semarang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here