Pojok AbaNa Jaringan Politik Ulama’ Pesantren

Jaringan Politik Ulama’ Pesantren

529
Banner infografis, Ulama Umara. (Militan.co/Mirza)

Pesantren merupakan salah satu model lembaga pendidikan yang dikelola oleh para ulama’ atau kiai dengan berbagai disiplin ilmu keislaman. Para ulama’ pesantren pada umumnya mengelola pesantren dengan titik tekan yang berbeda-beda, sesuai dengan disiplin keilmuan menonjol yang mereka miliki. Karena itu, masing-masing pondok pesantren memiliki ciri khas atau keunikan, menyesuaikan dengan kecenderungan para pengasuhnya. Walaupun rata-rata pesantren lebih menonjolkan aspek fikih, tetapi tetap menjadikan aspek teologi sebagai dasar pendidikan dengan inti ajaran tauhid dan sebagiannya juga merambah pada aspek tasawuf. Namun, khusus aspek yang terakhir ini, biasanya diberikan kepada mereka yang telah melewati masa dewasa. Karena itu, tasawuf dan praktek/pengamalannya yang disebut tarekat, sering dianggap “ilmu (orang) tua”. Ulama’ pesantren dalam konkteks tersebut, menjadi pendidik utama dalam membangun pribadi-pribadi muslim yang mengenal Tuhan dan menguasai teknis penyembanhanNya yang tidak mudah jika hanya dilakukan oleh para orang tua di rumah.

Namun, itu bukan berarti bahwa para ulama’ pesantren tidak memiliki orientasi kepada politik. Bahkan, karena peran mendidik yang diambil oleh para ulama’ pesantren tersebut, mereka kemudian memiliki basis politik yang sangat kuat dan luas dalam masyarakat. Sebab, para santri dan sesungguhnya juga keluarganya cenderung mengikuti apa saja yang menjadi pandangan dan tindakan ulama’ yang mereka jadikan guru. Tidak hanya dalam paham keberagamaan, tetapi sebagian besar juga mengikuti sampai kepada pilihan politik. Oleh mereka, para ulama’ dipandang memiliki wawasan yang lebih luas dan lebih jauh ke depan. Mereka berpandangan bahwa jika urusan diserahkan kepada kiai, maka akan bisa terselesaikan dengan baik.

Para ulama’ pesantren memiliki jaringan yang mengakar kuat dan luas sampai di tingkat desa-desa, karena para ulama’ menjadi tempat bertanya ummat. Masyarakat memiliki berbagai keperluan yang sebagian besarnya harus dikonsultasikan dan melibatkan ulama’. Untuk memenuhi kebutuhan pencerahan massal, masyarakat sering mengundang para ulama’ pesantren untuk memberikan ceramah agama dalam acara-acara seremonial yang mereka selenggarakan, semisal acara maulid nabi, peringatan tahun baru hijriyah, do’a akhir tahun, hala-bihalal/syawalan, haul tokoh masyakarat, dan lain sebagainya. Untuk keperluan yang bersifat individual, berkaitan dengan keluarga, atau masyarakat, tidak jarang ulama’ pesantren didatangi untuk berkonsultasi dan meminta bantuan.

Para ulama’ pesantren dianggap menjadi figur yang serba bisa untuk mengatasi segala problema dalam dinamika kehidupan baik dalam konteks individu maupun masyarakat. Dalam hal ini, ulama’ dituntut untuk melayani segala kebutuhan ummat mulai dari menamakan anak yang baru lahir, menentukan hari menyunatkan dan/atau menikahkan anak, sampai kepada urusan kematian yang tidak berhenti pada hari kematian itu, tetapi juga berlanjut pada hari-hari tertentu sesudahnya untuk menyelenggarakan do’a-do’a. Bahkan, walaupun ilmu kedokteran sudah sangat maju fasilitas kesehatan sudah terjangkau dan lebih baik, tetap saja ada yang membutuhkan do’a-do’a dalam sarana minuman sebagai obat penyembuh. Semua itu membuat para ulama’ pesantren menjadi figur yang sangat berpengaruh dan dihormati.

Para ulama’ pesantren juga memperkuat jaringan melalui perbesanan. Mereka menikahkan putra/i mereka dengan putra/i sesama ulama’ pesantren, melalui mekanisme perjodohan. Seringkali, pernikahan di antara putra/i mereka tidak memerlukan proses perkenalan yang lama. Dengan cara itu, berbagai kekuatan unggulan pesantren-pesantren yang mereka miliki bisa dikolaborasikan, atau bisa berbagi kelebihan sumber daya manusia, baik dengan cara transfer SDM maupun dengan cara berbagi waktu untuk mengajar, sehingga pesantren-pesantren yang mereka kelola tetap bertahan dan sebisa mungkin bertambah besar dan memiliki jangkauan yang makin luas dan popularitas dan juga pengaruh. Sebab, kekuatan utama dalam menyelenggarakan pendidikan di pesantren sesungguhnya terletak pada SDM pendidik. Dengan adanya hubungan pernikahan di antara keluarga para ulama’ tersebut, mereka juga bisa untuk memperkuat sinergi.

Karena memiliki basis yang riil di dalam masyarakat, maka para ulama’ menjadi rebutan partai-partai politik. Mereka dianggap sebagai orang-orang yang tidak hanya memiliki kapasitas keilmuan secara teoritik, karena pemahaman kepada teks khazanah intelektual Islam klasik, tetapi juga memiliki kedekatan dengan rakyat, sehingga memudahkan mereka untuk memahami dinamika yang terjadi di dalamnya dan memahami aspirasi mereka.

Dengan kelebihan itu, bisa dikatakan bahwa sesungguhnya para ulama’ pesantren tidak perlu mendatangi masyarakat secara khusus untuk mendengarkan aspirasi dan kebutuhan mereka. Sebaliknya, rakyatlah yang memang membutuhkan pertimbangan-pertimbangan untuk menyelesaikan permasalahan mereka, sehingga merekalah yang mendatangi para ulama’ pesantren dan menjadikan ulama’ sebagai konsultan mereka. Dari proses itu, berbagai dinamika dan masalah hidup yang dialami oleh rakyat, bisa diketahui dengan baik oleh para ulama’. Karena itulah, para ulama sangat diperhitungkan oleh partai-partai politik, karena mereka dianggap bisa dijadikan sebagai pengumpul suara dalam Pemilu untuk mendongkrak perolehan dukungan rakyat.

Namun, bukan berarti bahwa di antara para ulama’ pesantren terbebas dari konflik. Sebab, pada sebagian mereka juga terjadi perebutan pengaruh yang disebabkan oleh berbagai macam faktor. Tanpa adanya faktor kekuasaan politik, tidak jarang faktor pengaruh membuat sebagian di antara mereka mengalami disharmoni. Dalam konteks politik, di antara yang menjadi penyebab konflik di antara mereka adalah perbedaan pilihan politik yang kemudian diekspresikan secara vulgar, terlebih jika pilihan politik mereka dicarikan basis argumentasinya dengan teks-teks keagamaan, baik al-Qur’an maupun hadits, lalu dipahami secara sepihak.

Konflik semacam itulah yang seringkali membuat ummat mengalami kebingungan, dan sebagian mereka memilih untuk menyimpan kebingungan mereka, karena tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkan apa yang mereka pendam. Wallahu a’lam bi al-shawab.

Oleh: Dr. Mohammad Nasih, M.Si., Pengajar di Program Pascasarjana Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ, Pengasuh Pondok Pesantren Darul Qalam MONASH INSTITUTE, Ngaliyan, Semarang.

3 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here