Sosok Ketika Soesilo Toer Belajar Menulis

Ketika Soesilo Toer Belajar Menulis

188

Blora – Salah satu masalah utama siswa di Indonesia adalah lemahnya kemampuan menulis, padahal setiap minggunya mereka menerima mata pelajaran bahasa Indonesia selama empat jam dan itu dijalani dari SD sampai SMU/SMK. Perihal ini menjadi ironi apabila suatu lembaga pendidikan yang hanya membebankan kemampuan menulis dari proses formal di sekolah.

Menggunakan alasan bahwa kemampuan menulis itu merupakan bakat dan keturunan, juga bukan alasan yang tepat karena betapa banyak anak penulis ternyata juga tidak menjadi penulis. Sebaliknya banyak para penulis yang orang tuanya ternyata bukan penulis. Perjalanan kepenulisan Soesilo Toer, adik kandung Pramudya Ananta Toer berikut ini mungkin dapat menjelaskan pentingnya suatu proses sosial historis hingga predikat penulis lewat karya sastranya yang tergolong produktif.

“Dulu perbulan saya dikasih Pram uang 10 rupiah untuk membeli alat-alat tulis. Ya, sekolah sambil nulis. Untuk membiayai sekolah,” ungkapnya pada Jum’at, (20/3/2019).

Tulisannya yang pertama berupa cerpen tentang Blora yang berjudul Saya Ingin Jadi Jendral, “Cerpen tersebut bercerita tentang anak-anak yang bermain perang-perangan di Blora,” ujar dia menambahkan.

Soesilo waktu muda gemar membaca karya-karya Riyono Pratikno, Trisnojuwono dan Fyodor Dostoevsky seorang sastrawan kelahiran Moskwa, Rusia untuk memperkuat karakter tulisannya. “Karya sastra mereka sudah saya baca sejak kelas 6 SD di Blora,” beber dia menceritakan.

Baru-baru ini kumpulan cerpen Pak Soes yang ditulis ketika masa remaja dari tahun 1952 – 1960 dibukukan dengan judul SERENADE. Berisi 13 cerpen karyanya dan 2 cerpen karya Walujadi Toer.

Cerpen-cerpennya dimuat di Mimbar Indonesia, Siasat dan Majalah Keluarga dengan honor bervariasi dari Rp 30, Rp. 50 hingga Rp 150. “Di tahun-tahun itu uang sejumlah itu bisa untuk makan berbulan-bulan,” kenang dia berkata.

Di usia tuanya Soesilo, kecintaannya pada dunia kepenulisan dan buku tetap menggebu dengan kiprahnya dengan mengurus perpustakaan PATABA di Jalan Sumbawa No. 40 Kelurahan Jetis, Blora.

Sekelumit perjalanan penulis dan sastrawan Soesilo Toer ini setidaknya menjelaskan bahwa penempaan diri yang tak kenal menyerah dan lingkungan yang mendukung, terutama keluarga dan ketersediaaan buku menjadi titik tumpu ideal dalam mengembangkan kemampuan menulis. (Ahmad Adirin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here