Militania “Kutukan Jalan Pantura”

“Kutukan Jalan Pantura”

111

Terdengar kabar tentang sekolmpok ibu-ibu yang tinggal di sebuah pedalaman desa di kabupaten Batang, terserang wabah penyakit langka, bisu dengan leher kaku menoleh ke kanan. Diketahui, semua ibu-ibu yang menderita penyakit langka tersebut berprofesi sebagai penjual durian di tepi jalan pantura. Apa yang sebenarnya terjadi? Entah lah. Sepertinya kita perlu mendengarkan kisah Sumarno yang istrimya adalah salah satu ibu tua penjual durian yang kini juga terserang penyakit, oleh warga sekitar disebut sebagai penyakit kutukan.

***

Beberapa bulan terakhir, Suminah, istri saya, bersama dengan teman-teman seperjuangannya, selalu pulang dengan rasa resah dan kecewa. Apalagi beberapa temannya kini tergolek sakit membisu dengan leher kaku menoleh ke kanan. Pekerjaan mereka sebagai penjual buah durian tidak lagi dalam hitungan menit, tetapi berjam-jam lamanya, Ia harus duduk terpaku di tepi jalan Pantura. Suminah, istri saya, kian murung, bercerita tentang kesepian dan ketakutan yang mencekam.

Beberapa teman yang masih mampu berjualan tak punya lagi wajah ceria. Banyak goresan-goresan keriput yang muncul begitu cepat di dahi dan di pipi mereka. Suminah bahkan beruban sampai ke ubun-ubun, menyusul seluruh temannya menjadi tua renta. Adakah kutukan datang di jalanan Pantura tempat mereka bekerja? Sebagaimana warta dari warga desa ini?

Setiap pagi, di akhir bulan-bulan ini, Suminah tak sesibuk seperti biasanya. Ia tak perlu memilih buah durian terbaik yang harus Ia bawa ke tepi jalan Pantura. Berkurangnya kesibukan tersebut, ternyata disebabkan oleh tumpukan buah durian sisa kemarin yang tak habis terbeli oleh tuan-tuan kaya. Kadang, bahkan kini sering, tak satu buah durian pun laku dijemput oleh tuan yang biasa keluar dari mobil-mobil mewah. Apa yang terjadi? Suminah dan teman-temannya tak ada yang tau. Di rumah tak ada Televisi, Radio, atau bahkan lembaran koran yang biasa orang kota baca sebagai tambahan informasi. Tentang berita pemilu, atau pesona delapan puluh jutaan itu, Suminah dan teman-temannya, sekali lagi, tidak tahu menahu.

Selepas menyiapkan sarapan untuk keluarga, puluhan buah durian dengan berbagai variasi ukuran dan berat yang telah diikat dengan tali rapiah berwarna merah, siap untuk dipanggul. Buah durian itu kemudian dikaitkan dengan sebatang bambu yang telah dibelah dan dibentangkan di atas pundak-pundak perempuan yang sudah rapuh tak berdaya. Rombolan ibu-ibu penjual durian biasa berangkat ke tepi jalan Pantura semenjak pagi buta.

Jalur perjalanan menuju tepi jalan Pantura pun tak mudah. Tak beraspal dan mendaki pula. Jalanan setapak naik turun, terjal serta berbatu tajam itu, harus ditempuh puluhan kilometer. Dengan penuh harap, puluhan buah durian itu tak dipanggulnya kembali saat kelelawar mulai berkeliaran. Entah lah, ayam-ayam pun baru saja keluar bersama mereka, tetapi kecemasan itu membawanya terbang bersama dengan kelelawar di senja nanti.

Di tengah perjalanan, kebiasaan rombongan ibu-ibu penjual durian itu istirahat di tanah gundul bekas penebangan liar oleh oknum tidak bertanggung jawab. Mereka menyebutnya ‘lapangan botak’. Di sana, mereka mengeluarkan botol berisi air masak dengan rasa ‘sangit’ bekas rebusan kayu dan semak sebagai bekal nomor satu yang harus mereka bawa. Di sela-sela istirahat itu lah, Suminah coba bertanya kepada teman-temannya;

“Kenapa penyakit membisu dan leher kaku menoleh ke kanan terjadi kepada beberapa teman di antara kita?”

Tak ada jawaban. Lagi-lagi, Suminah dan teman-temannya tiada yang tau.

***

Matahari sudah cukup tinggi, jalan setapak itu mulai terlihat bekas kaki-kaki mereka, pertanda harus bebegas, karena keyakinan tentang “Jangan terlambat bangun, nanti bisa-bisa rejeki dipatuk ayam” masih melekat kuat di alam bawah sadar mereka.

“Satu kilo meter lagi”. teriak salah satu ibu tua memberi semangat kepada rombongan mereka.

Pagar pembatas jalan Pantura telah terlihat, sekitar puluhan meter di atas mereka. Di sana lah para ibu-ibu memisahkan diri, berpencar mencari tempat mereka menjajakan durian. Dari tikungan gapura desa Ujungnegoro sampai batas Alas Roban itu, telah berjejer tumpukan durian berteman dengan ibu-ibu tua. Suminah biasanya mengambil tempat tengah di antara deretan penjaja durian, tepat di seberang replika buah durian yang berada di tengah taman. Replika itu kini kusam, berdebu, dan sepi dari penjual-penjual cilok atau gorengan. Entah pergi kemana mereka? Apakah pergi bersama kendaraan-kendaraan yang dulu lalu lalang melintas jalan Pantura Batang ini? Lagi-lagi, para ibu tua itu tidak mengetahui.

Tiga jam berlalu, hanya lima mobil bak pengangkut pasir lewat dengan selang waktu yang cukup lama. Selain itu, motor-motor melintas, tak seramai seperti bulan-bulan yang lalu. Jalanan pantura Batang pun terlihat bergelombang dan penuh lubang. Lantas, apa karena itu mobil-mobil mewah libur untuk menggilas jalanan antar kota dan provinsi ini? Entah lah, para Ibu tua itu sama sekali tak tau apa yang terjadi.

Sekarang, yang sering melintas di benak istri saya, lanjut Sumarno, adalah kekhawatiran dan ketakutan jikalau kelelawar telah datang dan durian itu masih menggunung di tepi jalan. Keramaian itu tidak lagi di jalan pantura Batang, tetapi beralih ke dalam pikiran para ibu tua itu, termasuk istri saya, tentang kelelawar.

Berminggu-minggu berlalu, keadaan selalu sama. Bahkan kini, Suminah mampu menghitung jumlah kendaraan yang melintas dari arah timur dan barat. Genap dengan hitungan jari tangan dan kaki. Beberapa temannya pun, banyak yang sudah melibur. Sebagian besar mereka tekena wabah penyakit leher kaku. Suminah sibuk merenung, di rumah tak ada lagi beras. Sejak dua hari yang lalu, kami dan anak-anak memakan durian yang tak terjual sebagai pengganjal perut pengganti nasi. Dan yang dikhawatirkan lagi-lagi datang. Kelelawar itu sudah mulai berterbangan, sang surya pun mulai tenggelam, harapan Suminah hanyut dibawa matahari. Dan ia hampir menyerah memanggul duriannya dua kali untuk dibawa kembali.

Sumarno menambahi: “Jumlah para ibu tua itu tak seramai dulu, kini tinggal delapan orang saja. sebelum Suminah, istri saya, terserang wabah kutukan ini.”.

Untung, sinar rembulan begitu terang, jalan setapak menuju desa itu terlihat, menuntun ke arah pulang. Sesampainya di desa Wanar itu, Saya menunggu Suminah di bawah pagar masuk desa, penuh dengan rasa khawatir.

“Syukurlah” teriak ku menyambut istri tercinta datang.

“Biar aku yang memanggul, Sayang” tawar Sumarno penuh dengan kasih sayang.

Kami pun berjalan menuju rumah gubuk tempat Kami beristirahat dan berkasih sayang. Anak-anak sudah tertidur, Suminah tak berkata-kata sepenggal huruf pun. Tak ada resah gelisah yang disampaikan. Sepertinya Ia sudah mati rasa akan kegelisahan itu.

Tiba-tiba tubuh suminah terjatuh. Saya pun kaget dan bergegas meletakkan durian yang saya panggul.

“Ada apa, Sayang ku?” Ku peluk Suminah dengan perasaan khawatir.

Aneh, leher Suminah kaku dan wajahnya menoleh ke kanan.

“Apakah kutukan jalan Pantura itu kini menimpa Istriku?”gerutuku cemas.

Saya menyadari itu setelah beberapa tetangga yang menjual durian di jalan Pantura itu, mengidap penyakit sama, leher kaku dengan wajah menoleh ke kanan. Dukun terhebat di desa Wanar pun tak sanggup mengobati. Saya pun penasaran dan membawa dendam tentang apa yang sebenarnya terjadi di tepi jalan pantura itu?

***

Keesokan harinya, Sumarno berangkat menuju jalan Pantura dengan memanggul beberapa durian. Sesampainya di tepi jalan Pantura itu, ia pun terkaget-kaget, melihat jalanan yang kini bergelombang dan penuh lubang, sepi tanpa ada yang melintas. Ia tak bisa tinggal diam menunggu mobil datang. Ia pun terus berjalan menuju timur, barangkali ada sebuah jembatan yang roboh sehingga pantura menjadi sepi tiada yang melintas. Setelah empat jam perjalanan dan sampai di ujung Alas Roban, sebuah mobil Alphard datang menghampiri. Ia pun gembira setengah penasaran.

Pintu mobil bergeser canggih, bau harum pun menyeruak keluar. Seorang laki-laki berpakaian dinas keluar dan bertanya;

“berapa harga semua durian yang Bapak panggul?

“Lima ratus ribu mawon, Pak.” Jawabnya.

“Oh iya, masukan ke dalam mobil ya, Pak”.

Setelah transaki selesai, Sumarno memberanikan diri untuk bertanya kepada Tuan pembeli durian itu, tentang apa yang terjadi di jalan Pantura Batang yang kini menjadi sepi.

“Oh, Sekarang mobil-mobil melewati jalan Tol yang baru saja diresmikan oleh Presiden, Pak. Tepatnya disebelah selatan sana.”

Apa itu jalan Tol? Sumarno pun tak mengerti dan sibuk menggerutu di alam fikirnya tentang jalan Tol. Tapi, satu hal yang Ia ketahui adalah kutukan leher kaku yang menimpa para ibu-ibu penjual durian itu disebabkan oleh ibu-ibu tua itu terlalu lama menoleh ke kanan  menunggu mobil-mobil mewah datang membawa Tuan. Ah, Sumarno sibuk memikirkan siapa atau apa itu jalan Tol.

Oleh: Ficky Prasetyo Wibowo

Mahasiswa UIN Walisongo Semarang, Pecandu Buku di Monash Institute, Aktifis Umat di Sedekas.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here