Gagasan Masyarakat Awam dan Politik Ala Nabi

Masyarakat Awam dan Politik Ala Nabi

99

Dinamika yang terjadi di masyarakat semakin keruh, runyam dan semakin mencekam , hal ini ditandai dengan adanya pernyataan “paling jujur, paling ramah dan benar”. Padahal dibalik itu ada korban yang tidak diketahui secara utuh oleh pihak-pihak tertentu, yaitu masyarakat,  masyarakat butuh perhatian tidak serta merta dibiarkan begitu saja, kita lihat bersama betapa tidak dihiraukan nasib masyarakat.

Kita tahu apa yang terjadi sekarang, keramahan, baik hati, dan sangat merakyat. Namun, di balik itu ada harapan yang tidak terkendali, sebut saja “kacang lupa akan kulitnya” dan menindas perekoniman masyarakat. Misalnya, pajak lampat laun dinaikin, sembako mahal, pembayaran listrik tidak stabil. Lalu, apakah ini yang dimaksud merakyat, untuk rakyat? Jika memang merakyat maka fasilitas umum akan terpunuhi dan sesuai dengan standar yang ditentukan. Junjunglah paradigma secara adil Layaknya masyarakat diayomi, dirangkul, sebagaimana telah diterapkan oleh Rasulullah ketika beliau menjabat sebagai pemimpin Madinah.

Difinisi politik ditinjau dari bahasa Arab bisa diterjamahkan dengan kata siyasah. Kata ini diambil dari asal kata sin-waw-sin dengan makna pokok “ kerusakan sesuatu”, “tabiat atau sifat dasar”. dari makna pertama kata kerja sasa-yasusu-sausan yang berarti rusak atau banyak kutu, dan dari makna kedua kata sasa-yasusu-siyasatan yang berarti memegang kepemimpinan masyarakat, menuntun  atau melatih hewan dan mengatur dan memelihara urusan.

Politik berasal dari bahasa Yunani atau bahasa latin yaitu politicos atau ploiticus yang berarti berhubungan dengan warga Negara. Keduanya berasal dari kata polis yang  berarti kota. Dalam bahasa Indonesia, politik diartikan sebagai segala urusan dan tindakan (kebijakan, siasat dan sebagainya) mengenai pemerintahan negara atau terhadap negara lain.

Menurut, Dr. H. Mohammad Nasih, M. Si. Politik itu baik, politik itu bagus. Kita harus sadar betapa pentingnya berpolitik. Namun, politik yang sesuai dengan ajarkan Rasulullah. Dalam Al-Qur’an sudah dijelaskan yang artinya, “Sesungguhnya Allah memerintahkan kamu menunaikan amanat kepada yang berhak menerimanya dan (memerintahkan kebijaksanaan) di antara kamu supaya menetapkannya dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepada kamu. Sesungguhnya Allah maha mendengar lagi maha melihat. Wahai orang-orang yang beriman Taatilah Allah, taatilah rasul, dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berselisih tentang sesuatu, maka kembalikan kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (Sunnah) jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) lagi lebih baik akibatnya“ (QS. An-Nisa : 58-59).

Kita rinci lebih datail lagi bahwa menjadi pemimpin harus bersikap adil, merata dan transparan, melalui prinsip-prinsip pokok ajaran Islam tentang kekuasaan dan tanggungjawab terhadap amanah dan tuntunan dari Allah. Amanah merupakan perlakuan adil kepada masyarakat, dan keadilan yang dituntut bukan hanya berpihak kepada kelompok, golongan atau kaum muslimin saja, tetapi mencakup seluruh manusia bahkan seluruh makhluk juga.

Rasulullah, berpolitik melalui dakwah yang mengajarkan spritual dan moral, diantaranya tawadhu, sabar, istiqomah dan berpegang teguh kepada kebenaran, amanah dan tanggung jawab. Rasulullah bergerak ditengah-tengah masyarakat. Menyebarkan kebenaran melalui keluarga, dan sahabat-sahabatnya, hal ini adalah perintah langsung dari Allah.

Rasulullah melakukan pemantapan akidah kepada keluarga dan karabat-karabatnya dengan mengucap dua kalimat syahadat dan menyerukan tentang pengurusan masyarakat. Dengan ini dapat disimpulkan bawa dakwah Rasulullah bukan sekedar spritual dan moral saja tetapi berisi tentang pengurusan masyarakat.

Jika dikaitkan dengan politik yang ada di Indonesia, sangat jauh perbedannya. Ketika Rasulillah menjadi pemimpin rakyatnya bersatu padu untuk mengikuti ajarannya dan tidak membuat rakyatnya sengsara. Miris, yang terjadi di Indonesia kebalikannya.

Menurut A Muchlishon Rohmat, mengatakan bahwa selain sebagai seorang Nabi dan utusan Allah. Rasulullah adalah seorang pemimpin ‘Negara Islam’. Ia menjadi pucuk pemimpin Negara Madinah, kemudian wilayahnya semakin luas stelah menaklukkan fathu Mekkah dan wilayah lainnya. Dengan demikian tugas Rasulullah tidak hanya mendakwahkkan agama islam, akan tetapi juga mensejahterakan kehidupan Umat Islam dibawah naungan yang Ia pimpin.

Rasulullah sangat bijak, relevan apabila diterapkan di masa sekarang, seperti etika berpolirik, ramah, dan santun terhadap lawan politiknya, mampu mengalahkan lawannya tanpa kekerasan dan kecurangan, sejarah telah mencatat terkait kebijakan dan budi pekerti serta keluhuran beliau.

Menurut Makmun, Dosen Fakultas Syariah dan Hukum Uin Walisongo Semarang, mengatakan bahwa ditengah krisis kepemimpinan dan panutan saat ini akibat maraknya korupsi diberbagai lini, sekalipun pada tahun politik jelang pilpres 2019, menjadikan sosok Nabi Muhammad Saw sebagai top-model, tanpaknya cukup relevan untuk dikedepankan. Sebab era reformasi mendambakan terjadinya sebuah kontruksi masyarakat baru, yakni terciptanya msayarakat madani yang secara gemilang telah dibangun Nabi ketika beliau memimpin Negara Madinah.

Dengan demikian dapat disimpulkan, sebaik-baiknya berpolitik adalah politik diajarkan oleh Rasulullah dan dilanjutkan oleh para sahabat-sahabanya sampai hari ini. Di tahun polilik ini marilah kita senantiasa bersyukur agak apa yang kita capai mendapat berkah dan harapan yang dimpikan benar terujud sesuai dengan imaginasi dari rakyat untuk raykyat. Wallahu a’lam bi al-shawaab.

Oleh: Thayyibi Sapora*
Mahasiswa Sekaligus Penerima Beasiswa di Kampus STEBank Islam Mr. Sjafruddin Prawiranegara, Jakarta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here