Gagasan Membangkitkan Budaya Literasi Generasi Milenial

Membangkitkan Budaya Literasi Generasi Milenial

422

Ada kegalauan luar biasa yang tengah mengepung masyarakat saat ini. Bagaimana tidak, budaya literasi sedang tidak bersahabat dengan dunia akademisi. Kepungan teknologi telah menguasai segala aspek kehidupan manusia namun tidak ditempatkan semestinya. Perkembangan teknologi yang begitu pesat yang seharusnya berbanding lurus dengan pertumbuhan budaya literasi, namun kenyataannya malah berbanding terbalik 180 derajat.

Apalagi ketika dihubungkan dengan budaya literasi di Indonesia, hal ini menjadi miris sekali. Akademisi zaman sekarang sudah kehilangan budaya literasinya. Budaya literasi ini tidak hanya berhubungan dengan budaya membaca dan menulis, namun lebih dalam lagi, yaitu berhubungan dengan daya nalar dan kritis seseorang dalam menghadapi berbagai macam masalah.

Baca Juga: Mengembalikan Eksistensi Budaya Literasi

Bahkan yang lebih mengejutkan lagi, sebuah penelitian yang dilakukan oleh Central Connecticut State University di New Britain, Conn, Amerika Serikat, menyebutkan bahwa posisi Indonesia berada pada peringkat ke-60 dari 61 negara. Indonesia hanya berada pada satu tingkat lebih tinggi dari Botswana yang merupakan negara miskin di Afrika. Tentunya ini menjadi persoalan mendasar yang akan menjadi akar dari permasalahan lain.

Hilangnya Budaya Membaca

Salah satu indikator menurunnya budaya literasi adalah minimnya minat baca pada generasi muda saat ini. Hal ini dapat kita lihat dari jumlah pengunjung perpustakaan yang semakin menurun. Jikalau banyak pun, itu disebabkan oleh tugas akademik yang menuntut akademisi agar menjadikan buku sebagai referensi utamanya. Sehingga budaya membaca pada zaman sekarang hanya berkisar pada sektor kewajiban saja bukan pada sektor kebutuhan. Hal ini semakin diperburuk dengan data yang dihimpun oleh UNESCO, bahwa minat baca orang Indonesia hanya berkisar sekitar 0,01 %, artinya dari seribu orang hanya ada satu yang membaca buku.

Membaca memang tidak hanya melalui buku-buku teks yang sudah di-print out, namun bisa juga lewat e-book yang kini sangat mudah didapatkan dan juga portable, tidak menghabiskan disk space pada gadget dan bisa dibaca dimanapun serta kapanpun. Namun, dengan berbagai macam kemudahan itu, tak membuat pemuda masa kini tertarik untuk menjamah teknologi itu. Mereka lebih tertarik kepada “perselancaran” di dunia maya, menghabiskan waktu untuk chattingan dan membuat story di berbagai macam media sosial yang mereka punya.

Selain itu, hilangnya kemampuan membaca masalah pada generasi ini juga sangat terlihat. Hal ini dapat kita lihat dari menurunnya jiwa kritisme anak muda sekarang yang cenderung cuek dan apatis terhadap masalah yang ada. Mereka cenderung tertarik untuk menjaga image di hadapan orang lain, dan merasa bahwa hidup mereka akan terasa kurang sempurna jika tanpa gaya. Jika dahulu Descartes mengatakan “Aku berpikir maka aku ada”, mungkin generasi muda saat ini akan mengganti redaksinya menjadi “Aku bergaya maka aku ada”. Tidak ada yang tidak mungkin bagi generasi sekarang untuk mengubah apapun dengan sesuka hati mereka.

Baca Juga: Sinergitas Pacu Totalitas

Teknologi lagi-lagi menjadi kambing hitam pada permasalahan ini. Terutama daya tarik gadget yang sangat luar biasa yang mampu mengalihkan perhatian seseorang dari dunia nyata kepada dunia maya. Namun, tidak bisa kita sepenuhnya menyalahkan teknologi. Karena sebuah teknologi akan menjadi baik dan bermanfaat jika berada di tangan orang yang benar, sebaliknya jika teknologi digenggam oleh seseorang yang salah, maka akhirnya yang terjadi adalah kesalahan pada penggunaan teknologi itu sendiri. Teknologi yang harusnya akan mempercepat kerja kita, malah dia menjadi penghambat bagi kemajuan kita.

Untuk menyelesaikan masalah ini dibutuhkan penangananan yang maksimal. Baik dari pemerintah sebagai instruktur terhadap kebijakan yang akan dilaksanakan, maupun dari kaum akademisi yang akan menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagai seseorang yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat nantinya. Jangan sampai kita menjadi masalah masyarakat yang nantinya akan memberatkan semua pihak, namun jadilah pribadi yang bermanfaat, berwawasan luas dan jadilah problem solver bagi setiap permasalahan yang ada.

Untuk menjadi problem solver yang baik, tentunya kita dituntut untuk memahami medan permasalahan, salah satu caranya adalah dengan meningkatkan intensitas membaca, baik melalui buku, koran, majalah dan sebagainya. Hal ini penting, mengingat buku adalah jendela dunia, namun jangan lupakan bahwa pengalaman adalah guru terbaik. Sehingga dipandang perlu  untuk mengkorelasikan antara keduanya. Dengan meningkatkan budaya membaca, dengan perlakuan yang intensif, tentu diharapkan dapat memperbaiki budaya literasi bangsa kita. Semoga.

Oleh: Lailatus Syarifah, Mahasiswi Jurusan Pendidikan Matematika Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here