Gagasan Memenuhi Kesukaan Ramadhan

Memenuhi Kesukaan Ramadhan

213

Bulan suci Ramadhan kembali tiba. Umat Islam di seluruh penjuru dunia bersorak gembira menyambut datangnya bulan penuh ampunan tersebut. Kegembiran itu salah satunya, sering kita lihat, diwujudkan dengan membakar kembang api dan petasan. Suasana ramai menjelang berbuka puasa hingga shalat Tarawih yang khas juga menunjukkan kegembiraan muslim menyambut Ramadhan. Mengapa bergembira?

Dalam kitab Durratun Nashihin, Utsman bin Hasan al-Khubawi mengungkapkan, “Man fariha bi al-dukhuli al-Ramadhan, harrama Allahu jasadahu ‘ala al-niran; siapa saja yang gembira menyambut datangya bulan Ramadhan, maka Allah mengharamkan jasadnya atas api neraka.” Sesungguhnya ini adalah bentuk ungkapan yang menunjukkan bahwa Ramadhan memang merupakan salah satu bulan yang agung dan spesial, sehingga harus dilalui dengan penuh kegembiraan.

Harus dipahami bahwa “bergembira” dalam konteks ini bukan bermakna hura-hura yang cenderung negatif dan tidak jelas manfaatnya. Namun, bergembira yang dimaksud adalah sikap senang dengan “memberikan” apa saja yang disukai oleh Ramadhan. Ibarat manusia, bulan suci Ramadhan memiliki kesukaan tersendiri yang khas dibanding dengan bulan yang lain. Pada tulisan ini, penulis akan menjelaskan beberapa kesukaan Ramadhan yang bisa kita “berikan” kepadanya selama satu bulan ke depan.

Tentu saja, dalam memberikan kesukaan itu, seorang muslim juga harus dalam kebahagiaan. Dalam sebuah hadits Qudsi dijelaskan tentang kebahagian seorang yang berpuasa ibadah puasa di bulan Ramadhan: “Setiap amal yang dilakukan anak Adam adalah untuknya, setiap satu kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali lipat. Kecuali puasa, itu untuk-Ku dan Aku yang langsung membalasnya. Dia tidak makan dan tidak minum karena Aku. Orang yang berpuasa akan mendapat dua kebahagiaan: kebahagiaan saat berbuka dan kebahagiaan saat bertemu dengan Rabbnya kelak. Sungguh bau mulut orang yang puasa itu lebih harum di sisi Allah daripada aroma minyak kesturi.”  (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam hadist tersebut, selain mengungkap kebahagiaan orang yang berpuasa, juga secara eksplisit memberikan pengertian bahwa ibadah puasa itu mengandung nilai-nilai yang revolusiner terhadap diri seorang muslim.

Kesukaan Ramadhan

Kesukaan Ramadhan yang pertama dan paling uatama adalah berpuasa bagi yang kuat menjalankannya. Sudah menjadi rahasia umum bahwa berpuasa saat bulan Ramadhan adalah kewajiban bagi umat Islam. Mengenai puasa ini, Tuhan telah berfirman dalam Alquran, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.”(QS. Al -Baqarah: 183).

Dalam sebuah hadits yang sangat terkenal dikatakan bahwa Rasulullah Saw. bersabda, ”Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu pasti diampuni”. (HR. Bukhari dan Muslim). Dari hadits di atas, Ibnu Baththol mengatakan bahwa yang dimaksud “karena iman” adalah membenarkan wajibnya puasa dan ganjaran dari Allah ketika seseorang berpuasa dan melaksanakan qiyam ramadhan. Sedangkan yang dimaksud “ihtisaban; mengharap pahala” adalah menginginkan pahala Allah dengan puasa tersebut dan senantiasa mengharap ridla-Nya.

Dengan demikian, puasa yang dilandasi iman dan ikhlas itulah yang menuai balasan pengampunan dosa yang telah lalu. Maka wajar saja, jika bulan Ramadhan sering disebut sebagai bulan penuh ampunan, sebagaimana yang disinggung di awal tulisan ini. Namun, menurut Syaikh ‘Ali bin Yahya Al Haddady, pengampunan dosa yang dimaksudkan di sini adalah pengampunan dosa kecil. Adapun pengampunan dosa besar maka itu butuh pada taubat yang khusus sebagaimana diterangkan dalam hadits Abu Hurairah, Rasulullah Saw. bersabda, “Di antara shalat yang lima waktu, di antara Jum’at yang satu dan Jum’at yang berikutnya, di antara Ramadhan yang satu dan Ramadhan berikutnya, maka itu akan menghapuskan dosa di antara dua waktu tadi selama seseorang menjauhi dosa besar.” (HR. Muslim).

Baca juga: Menangkal Ujaran Kebencian di Bulan Ramadhan

Dalam berpuasa pun, ada hal-hal yang harus diperhatikan. Sebut saja, ketika sahur dan berbuka. Nabi Muhammad Saw. bersabda, “Ummatku selalu dalam kebaikan selagi mensegerakan berbuka dan mengakhirkan (melambatkan) sahur.”(HR Ahmad). Selain itu, dalam berpuasa, seseorang harus menjaga lisannya agar jangan sampai membicarakan keburukan orang lain atau berkata yang tidak perlu. Nabi bersabda bahwa barang siapa yang tidak bisa meninggalkan diri dari ucapan palsu (jelek) dan tetap mengerjakannya, maka tidak berguna bagi Allah puasanya. Itulah sekelumit penjelasan mengenai puasa; sebagai salah satu amalan yang disukai Ramadhan.

Kesukaan Ramadhan selanjutnya adalah tarawih di malam hari pada waktu Ramadhan. Shalat tarawih ini adalah shalat malam yang khusus dilakukan di bulan Ramadhan. Dalam pembahasan shalat ini, banyak sekali perbedaan mengenai jumlah raka’at shalat tarawih. Menurut Muhammad Abduh Tuasikal, setidaknya ada empat pendapat yang banyak dianut oleh umat Islam di dunia; pertama, yang melaksanakan tarawih sebanyak 11 raka’at (termasuk witir). Alasannya karena inilah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw. Inilah pendapat Syaikh Ali Albani dalam kitab “Shalatu al-Tarawaih”.

Kedua, dilakukan sebanyak 20 raka’at (belum termasuk witir). Inilah pendapat mayoritas ulama semacam Ats Tsauri, Al Mubarok, Asy Syafi’i, Ash-haabur Ro’yi, juga diriwayatkan dari ‘Umar, ‘Ali dan sahabat lainnya. Bahkan pendapat ini adalah kesepakatan (ijma’) para sahabat. Ketiga, dikerjakan sebanyak 39 raka’at (sudah termasuk witir). Ini adalah pendapat Imam Malik. Beliau memiliki dalil dari riwayat Daud bin Qois, dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dan riwayatnya shahih. Keempat, dilaksanakan sebanyak 40 raka’at (belum termasuk witir). Sebagaimana hal ini dilakukan oleh ‘Abdurrahman bin Al Aswad shalat malam sebanyak 40 raka’at dan beliau witir 7 raka’at. Bahkan Imam Ahmad bin Hambal melaksanakan shalat malam di bulan Ramadhan dengan jumlah raka’at yang tak terhitung  sebagaimana dikatakan oleh ‘Abdullah, anaknya.

Mengenai perbedaan di atas, Ibnu Taimiyah berkata, “Semua jumlah raka’at di atas boleh dilakukan. Yang lebih utama adalah melaksanakan shalat malam sesuai dengan kondisi para jama’ah. Kalau jama’ah kemungkinan senang dengan raka’at-raka’at yang panjang, maka lebih bagus melakukan shalat malam dengan 11 raka’at. Begitu pula dengan yang lain. Oleh karena itu, barangsiapa yang menyangka bahwa shalat malam di bulan Ramadhan memiliki batasan bilangan tertentu dari Nabi Muhammad Saw., sehingga tidak boleh lebih atau kurang dari 11 raka’at, maka sungguh dia telah keliru”. Oleh sebab itu, kita harus bijak mengambil sikap mengenai perbedaan tersebut. Poin pentingnya adalah bagaimana umat Islam menggunakan malam di bulan ramadhan untuk qiyamu al-lail. Dengan kesadaran ini, umat seorang muslim diharapkan bisa merevolusi diri, terlebih untuk meningkatkan kecerdasan spiritualnya.

Baca juga: Menajamkan Kesalehan Spiritual Dan Sosial

Kesukaan Ramadhan yang lain adalah membaca Alquran sebanyak-banyaknya. Jelas sekali, ketika Ramadhan datang, di berbagai tempat ibadah pasti akan banyak dijumpai suara-suara orang yang melantunkan Alquran. Membaca Alquran sebenarnya tidak usah menunggu bulan Ramadhan datang. Sebab, Alquran merupakan kitab suci agama Islam yang sudah barang tentu wajib kita baca, pelajari, amalkan, dan ajarkan. Hanya saja, jika kita melakukan itu pada bulan Ramadhan, maka pahalnya akan dilipatgandakan. Sebab, di bulan itulah Alquran pertama kali diturunkan.

Sebenarnya masih banyak hal yang disukai oleh Ramadhan yang bisa kita kerjakan pada bulan suci kali ini. Seperti, i’tikaf di masjid, bersedekah, berdzikir, berbuat baik pada sesama, dan lain sebagainya. Yang jelas, semua perbuatan baik pada bulan ini akan dilipatgandakan pahalanya. Sebaliknya, semua perbuatan buruk akan dilipatgandakan dosa-dosanya. Bersyukurlah muslim yang mendapati Ramadhan kali ini. Sebab, banyak muslim yang tidak bisa berjumpa dengan Ramadhan kini, karena telah dipanggil oleh Allah swt. Syukur itu berupa rasa senang dan gembira yang diwujudkan dengan memberikan segala yang disukai Ramadhan dan menjauhi hal-hal yang dibenci Ramadhan. Wallahu a’lam bi al-shawab.

Oleh: Mokhamad Abdul Aziz, Alumnus Pondok Pesantren Salafiyah Al-Barkah Sulang Rembang, Mahasiswa Magister Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang.

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here