Gagasan Menjaga Bhinneka Tunggal Ika

Menjaga Bhinneka Tunggal Ika

480

Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri dari 16.056 pulau. Selain itu, Indonesia juga negara yang menempati urutan keempat dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia yang mencapai 2.620.000 jiwa pada tahun 2017. Dengan data tersebut, maka tak heran jika di setiap daerah di Indonesia terdapat berbagai suku, agama, ras, budaya, bahasa, dan adat istiadat yang berbeda-beda. Namun untungnya, Indonesia mempunyai semboyan ‘bhinneka tunggal ika’ yang diharapkan mampu menyatukan perbedaan tersebut.

Indonesia sudah berdiri lebih dari 70 tahun sejak 1945. Dalam perjalanannya, bangsa ini sempat diwarnai oleh konflik dan tragedi yang disebabkan oleh perbedaan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). Hingga pada akhirnya, kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) menjadi korbannya.

Ancaman Isu SARA

Konflik atas nama SARA yang pernah mengancam NKRI memang sering terjadi di negeri ini. Di antaranya yaitu pemberontakan PKI, gerakan separatis Republik Maluku Selatan, serta diskriminasi terhadap Jemaat Ahmadiyah Indonesia, Gafatar, Syiah, Sapta Darma dan kepercayaan lain. Pada tahun kemarin juga sempat heboh isu terbentuknya negara khilafah oleh ormas Hizbut Tahrir Indonesia serta penistaan agama yang dilakukan oleh Ahok. Berbagai konflik tersebut jelas sangat mencemarkan bhinneka tunggal ika.

Baca Juga: Pancasila dan Piagam Madinah

Menjelang Pilkada bulan Juni mendatang, pertarungan politik yang semakin memanas dikhawatirkan akan memicu terjadinya konflik lagi. Isu SARA memang menjadi senjata utama dalam kampanye Pilkada untuk menjatuhkan lawan politik. Saat ini pun sudah tampak berbagai wacana mengenai isu SARA yang tersebar di media sosial. Dalam hal ini, yang diuntungkan hanyalah kaum mayoritas saja. Sementara kaum minoritas akan merasa terdiskriminasi dan sakit hati hingga pada akhirnya melakukan perlawanan dan menimbulkan konflik.

Makna Bhinneka Tunggal Ika

Bhinneka tunggal ika dibangun oleh para pejuang bangsa dan diresmikan oleh Presiden Soekarno sebagai lambang negara pertama kali pada Sidang Kabinet Republik Indonesia Serikat tanggal 11 Februari 1950. Hal itu sudah diatur dalam Pasal 36 A UUD 1945 yang menyatakan bahwa lambang negara ialah garuda pancasila dengan semboyan bhinneka tunggal ika. Perilhal tersebut juga dipertegas dalam peraturan pemerintah Nomor 66 Tahun 1951 dan Undang-Undang RI Nomor 24 Tahun 2009.

Makna dari ketentuan hukum tersebut adalah mendorong timbulnya kesadaran bertoleransi demi kukuhnya persatuan dan kesatuan, meningkatkan identitas dan kebanggaan sebagai bangsa Indonesia, serta meningkatkan nilai kegotongroyongan dan solidaritas. Selain itu, masyarakat juga tidak boleh saling menghina, mencemooh, atau saling menjelekkan di antara sesama bangsa Indonesia, dan dituntut untuk saling menghormati dan mencintai antarsesama.

Baca Juga: Tidak Bhinneka, Bukan Indonesia

Namun pada kenyataannya, masyarakat Indonesia memandang hukum tersebut dengan sebelah mata. Mereka kebanyakan acuh dan apatis dengan keberagaman yang ada di sekitarnya serta lebih mengutamakan kepentingan golongan sendiri. Mereka juga tidak mau meyadari dan mengakui bahwa Indonesia merupakan negara multikultur yang terdiri dari berbagai SARA.

Itulah yang menjadi masalah besar bagi bangsa Indonesia. Hal itu jelas sangat tidak sesuai dengan ideologi bhinneka tunggal ika. Bhinneka tunggal ika yang seharusnya dihormati ternyata malah dirusak dengan mudah oleh diskriminasi dan persekusi SARA.

Sebagai warga negara yang baik, kita seharusnya bisa memaknai bhinneka tunggal ika dengan bijak. Bhinneka tunggal ika merupakan sebuah harapan dari para pahlawan yang berfungsi untuk menyatukan keberagaman yang ada di Indonesia. Selain itu, bhineka tunggal ika juga berperan penting dalam menjaga keutuhan NKRI.

Hal yang harus dilakukan bagi warga negara yaitu kita harus menyadari bahwa Indonesia merupakan negara yang kaya akan keberagaman. Justru itulah yang menjadikan Indonesia sebagai negara yang unggul dari negara lain. Seharusnya kita bisa mengelola keberagaman yang ada di Indonesia dengan baik agar menjadi negara maju.

Toleransi antarsesama juga sangat diperlukan. Kita harus menghargai perbedaan yang ada di negara ini. Kita tidak boleh membeda-bedakan antargolongan. Indonesia adalah satu. Tidak ada yang namanya Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Tidak ada yang namanya Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Konghucu.  Melainkan yang ada hanyalah Indonesia yang berdiri kokoh di bawah semboyan bhinneka tunggal ika. Maka dari itu, ujaran kebencian dan diskriminasi terhadap golongan lain harus dihapuskan.

Baca Juga: Ekspose Perempuan di Media Massa 

Para aktor politik juga diimbau untuk berhati-hati dalam berkampanye. Sebagai calon pemimpin, para aktor politik harus bisa bercermin pada hukum dan menghormati bhinneka tunggal ika. Jangan sampai menggunakan isu SARA sebagai senjata untuk meraih kursi singgahsana. Sebaliknya, mereka seharusnya berlomba-lomba untuk memajukan negara dengan cara yang bersih dan sehat.

Bhinneka tunggal ika merupakan semboyan yang diharapkan oleh para pejuang bangsa. Kita sebagai generasi bangsa seharusnya bisa memaknainya dengan bijak dan mampu menjaga keberagaman yang ada di negeri ini. Jangan sampai isu SARA kembali mengganggu kedaulatan NKRI. Maka dari itu, kita harus tetap menjaga bhinneka tunggal ika. Wallahu a’lam.

Oleh: Athok Mahfud, Penulis adalah Aktivis di Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) IDEA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here