Gagasan Menuju Desa Berkembang

Menuju Desa Berkembang

117

Desa berasal dari Sansekerta yakni “dhesi” yang berarti tempat lahir. Namun, secara perlahan arti desa sendiri berkembang baik dikalangan masyarakat,  sehingga memiliki makna yang familiar dikalangan para ahli, bahwa desa memliki berbagai peran penting.

Menurut R. Bintarto. Berpendapat bahwa desa adalah perwujudan atau kesatuan geografi, sosial, ekonomi, politik, serta kultural yang terdapat disatu daerah dalam hubungan dan pengaruhnya secara timbal balik dengan daerah lain.

Jadi, ditinjau lebih jauh lagi, desa merupakan serangkaian prosedur yang mencankup berbagai macam kultur ataupun budaya dimana dalam desa tersebut terdapat hubungan timbal balik antara desa satu dengan desa lain guna untuk menciptakan sinergi positif.

Ditinjau dari undang-undang adalah UU No. 5 Tahun 1979 yang menjelaskan bahwa  desa adalah satu wilayah yang ditenpati sejumlah penduduk sebagai kesatuan masyarakat termasuk  didalamnya  kesatuan masyarakat dan hukum yang mempunyai organisasi pemerintahan terendah langsung dibawah camat dan berhak menyelenggarakan rumah tangganya sendiri dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Ditambahkan UU No. 22 Tahun 1999. Dijelaskan bahwa desa  merupakan  kesatuan masyarakat hukum yang memiliki kewenangan  untuk mengatur dan mengurus kepentingan  masyarakat setempat berdasarkan asal usul dan adat istiadat  setempat  yang diakuai dalam sistem pemerintahan Nasional dan berada di daerah Kabupaten.

Pengerucutan dari dua UU diatas, UU No. 5 menegaskan maju atau tidaknya organisasi di desa tersebut tergantung camatnya kerena desa bisa maju ditentukan oleh pengendali yaitu camat. UU No. 22 penegasan kembali tentang desa, dimana desa bisa maju apabila diakui oleh pemerintah setempat yaitu kabupaten.

Marilah kita kaji kembali betapa besar peran desa terhadap Negara ini,  salah kiranya jika penulis berkata “desaku terpencil” karena faktanya memang jelas terlihat, bahkan masih berada dipelataran desa tersebut. Coba tegok jalan utama, akses untuk menuju desa, sangat memprihatinkan seakan jauh dari jangkauan para elit. Entah! Apa yang sedang di fikiran penulis tentang desaku, memang ini adanya tanpa ada unsur benci sedikitpun, hanya saja penulis prihatin.

Bukti kedua yaitu penerangan jalan, terhitung dari jalan pantura sampai ke ujung plosok desa tidak ada sedikitpun lampu yang menyala, miris bukan? Betapa risaunya masyarakat apabila melintasi jalan utama, penuh ketakutan. Bahkan, ada sebagian tidak berani melintas gegara gelap.

Kementrian desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Tranmigrasi (PDTT) Eko Putro Sandjojo mengatakan bahwa inovasi desa ini menjadi kunci keberhasilan dan efektivitas dari pelaksanaan program dana desa. Ini juga dikaitkan dengan program-program yang ada ditingkat kabupaten, provisi, atau pusat.

Meningkatkan efektivitas butuh singkronisasi antar desa, tidak hanya sekedar dasarnya saja. Guna untuk mencapai hasil yang maksimal dari pengeluaran anggaran dana desa yang sesuai dengan struktur desa. Sebut saja Bapelle” adalah desa yang jauh dari peradapan, akses untuk berkomunikasi saja sangat susah, untuk buang air besar saja harus melintasi rumput hijau disawah. Bagaimana bisa, ia memang bisa. Karena enam puluh persen masyarakat tidak memiliki toilet, jika butuh bukti, maka datanglah ke kampung halaman.

Memiliki inovasi, merupakan ide yang realistis baik. Namun, sampai saat ini belum ada penanganan intensif dari pihak-pihak yang berwenang, bagaimana cara agar desa ini berkembang dengan baik? Jika penanganannya kurang, yang ada hanya ketimpangan.

Masyarakat butuh pemaparan yang akurat mengenai anggaran yang telah disediakan oleh pemerintah setempat, percuma ketika ilmu yang ia punya tidak dijabarkan ditengah-tengah keramaian(masyarakat desa) Apalagi menyangkut kepentingan ummat. Ayo bergerak bersama, jangan jadikan kami alat untuk kepentingan pribadi, jadikan kami pribadi yang taat akan aturan Negara tidak menyalah gunakan temperatur yang ada.

Dr. Mohammad Nsih, M.Si. Berpendapat bahwa kecendikiaan (cepat mengerti situasi dan pandai mencari jalan keluar) adalah peran optimal dalam masyarakat, bukan berteori diatas menara gading yang menjulang. Artinya pemimpin desa harus menjadi cendikia dulu agar bisa mensejahterakan rakyatnya, terutama rakyat yang sedang mengalami kesulitan ekonomi.

Pelaku ekonomi saat ini membutuhkan sesuatu yang konkrit dari pemimpin desa, bukan janji. Rakyat ini tidak tahu menahu mengenai anggaran desa, yang ia tahu hanyalah bagaimana cara agar besok bisa makan, bisa memberikan uang jajan untuk anak-anaknya, lirik kami sebagai saudara, lirik kami sebagai sahabat. Kami butuh itu, kami butuh kepastian atas kenyamanan kita bersama.

Ketimpangan mengenai desa yang begitu ramah ini, melihat kondisi yang tidak begitu bagus, melihat amburadulnya jalan-jalan, apakah mungkin kami diam? Anak muda mungkin sama. Namun, tidak ada akses untuk mengeluh, untuk menyuarakan belenggu dalam hatinya.

Teknologi semakin canggih, layak pemuda ikut serta untuk membangun desa yang lebih baik. Membimbing peradaban yang sesuai dengan Al-Qur’an dan sunnah, insya Allah sejahtera dengan sendirinya dan kesulitan yang sekarang kita alami akan semakin mudah, insya Allah. Wallahualam bissawab.

Oleh: Thayyibi Sapora*
Mahasiswa Sekaligus Penerima Beasiswa di Kampus STEBank Islam Mr. Sjafruddin Prawiranegara, Jakarta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here