Gagasan Menyoal Fatwa Haram PUBG

Menyoal Fatwa Haram PUBG

129

Di tengah kontestasi Pilpres dan Pileg 2019 yang semakin memanas, baik di dunia maya maupun nyata, publik dihebohkan oleh wacana MUI yang akan mengeluarkan fatwa haram terhadap game PUBG (Player’s Unknown Battle Ground). Wacana tersebut muncul setelah terjadi penembakan brutal di Masjid Selandia Baru yang menewaskan puluhan jamaah.

Salah satu pelaku dari Australia bernama Brendon Tarrant mengaku bahwa dia belajar menjadi pembunuh dari sebuah game.  “Spyro the Dragon taught me ethno-ethnicity. Fortnite taught me to be a killer and to floss (a dance move) on the corpses of my enemies.” (Mervyn Naidoo dan Nathan Craig, “Christchurch mosque killer called mandela a terrorist in hate manifesto”, msn news , 2019-03-17). Pengakuan tersebut adalah salah satu ungkapan Tarrant yang menghebohkan dunia.

Manifesto Tarrant tersebut telah membuat resah para developer dan publisher game, karena selain adanya isu wacana di atas, telah menimbulkan kesan buruk terhadap semua jaringan dan aplikasi game yang akan menyebabkan kerugian perusahaan. Bahkan para orang tua begitu responsif terhadap isu tersebut, karena anak-anaknya cenderung terkontaminasi oleh dampak negatif game .

Wakil Sekjen MUI Tambunan, Amirsyah berpendapat bahwa  penetapan fatwa MUI atas haramnya permainan game PUBG adalah ketika sudah ada validitas data dan interpretasi para ahli dalam berbagai bidang yang signifikan, seperti psikolog, kesehatan dan yang lainnya. (Muhammad Fida Ul Haq, ”MUI: Fatwa Haram PUBG Diputus Bulan Depan”, detiknews, 25 Maret, 2019).

Baca juga: Antara Harga dan Nilai

Asumsif yang digandeng dengan argumen logis dan rasional, maka akan lebih menguatkan suatu fatwa yang sedang dipersoalkan. Amirsyah berpendapat, bahwa apabila permainan game yang bernilai negatif dan memicu pada tindakan radikal, pornografi, sehingga menjadikan generasi muda yang tidak produktif, akan ditolak secara pasti.

Gagasan tersebut sangat bagus dan responsif. Adapun klarifikasi atas persoalan ini membutuhkan beberapa ijtihad dari sudut pandang yang berbeda, komprehensif dan rasional. Esensi dari orientasi umat Islam adalah hanya beribadah kepada Maha Pencipta dengan kesungguhan yang teramat. Namun dalam Islam juga diperbolehkan bermain atau beristirahat untuk meng-uppgrade semangat dalam beribadah, menambah wawasan dan pengalaman dalam iktibar lainnya.

“Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu dan janganlah kamu melampaui batas. janganlah kamu melanggar perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. al-Maidah:87).

Baca juga: Dilema Politik Ulama dan Umara

Menurut sudut pandang Islam, bermain yang bernilai positif itu diperbolehkan. Berdasarkan catatan sejarah, ada seorang sahabat bernama Hanzhalah. Ia  selalu merasa bimbang atas kinginan yang terpatri dalam dirinya. Dia sering berfikir seolah-olah hidupnya dikerumuni rasa kebohongan. Hanzhalah saat bersama Rasulullah benar-benar serius, tidak bercanda dan matanya selalu sembab, namun saat kembali ke keluarganya, ia bercanda tawa dan bermain. Hal tersebut dialami juga oleh sahabat Abu Bakar. Oleh karenanya, mereka menemui Rasulullah dan bertanya terkait problemnya.

Rasulullah memberi jawaban dalam hadisnya yang berbunyi: “Demi Dzat yang aku berada di tangan-Nya, jika kalian tetap seperti dalam kondisi ketika kalian berada bersama ku, atau seperti ketika kalian berdzikir, maka Malaikat akan menyalami kamu sekalian di tempat-tempat tidurmu dan di jalan-jalanmu. Akan tetapi, wahai Hanzhalah, “semuanya ada waktunya”. Itu beliau ucapkan sebanyak 3 kali.” [HR. Muslim:7142]

Jelas tidak ada kaidah yang mengharamkan permainan ataupun hiburan, karena masing-masing ada waktunya. Tidak selamanya sibuk dan serius begitupun sebaliknya. Dalam sudut pandang psikolog dan kesehatan, bahaya dan manfaat bermain game sangat tidak seimbang. Nilai negatif cenderung timbul dari bermain game karena secara berlebihan, di antaranya adalah membuang waktu produktif, timbulnya degradasi sosialisasi dalam keluarga, teman dan yang lainnya, menghabiskan investasi keuangan, mematikan kreativitas.

Yusuf al-Qardhawi berpendapat dalam kitabnya al-Lahwi wa al-Tarwih, bahwa  tidak ada teks syariah, al-Qur’an dan sunnah  yang mengharamkan bermain, rekreasi dan istirahat, kecuali yang mengarah pada kesalahan aktual. Adapun permainan yang diperbolehkan adalah permainan yang tidak membahayakan dan bernilai positif.  Karena sejatinya manusia membutuhkan hiburan, rekreasi dan pencerahan untuk menambah semangat yang mengalami degradasi (penat).

Persoalan ini bukan hal yang biasa, justru akan menyibukkan berbagai pihak dan komunitas tertentu secara signifikan. Orang tua, guru dan masyarakat. Terlebihnya keluarga menjadi lebih simpati pada buah hatinya dengan memberi kesenangan yang mendidik dan menghibur, seperti memperbolehkan membeli benda mainan, bermain game dengan diporsi waktunya seraya dipantau.

Oleh: Iis Sa’idatul Ulfah, Alumnus IAIN Syekh Nurjati Cirebon Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah Jurusan Ilmu al-Qur’an dan Tafsir

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here