BERAWAL dari keinginannya untuk hidup mandiiri,usaha budi daya lele yang dirintis Arif Fathan Rabi’ telah memberikan kontribusi sangat berarti. Tidak hanya bagi dirinya, tetapi juga kepada lingkungan sekitarnya.

Arif, sapaan akrab pemuda asal Rembang ini merupakan salah seorang sosok wirausaha muda yang mengembangkan pembudidayaan bibit lele siap olah. Berkat kegigihannya, mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Univeritas Islam Negeri Walisongo Semarang ini, kini telah memiliki 10 buah kolam lele, dengan masing-maing tiap kolam berisi kurang lebih 500-1000 ekor lele.

“Semuanya saya mulai secara mandiri. Dimulai dari pembenihan, pembesaran, hingga penjualan, semuanya saya kerjakan sendiri. Hitung-hitung mencari pengalaman juga”, ucap Arif kepada militan.co.

Ingin tahu profil selengkapnya tentang pengusaha muda, kaya raya nan rupawan ini. Berikut profil Arif Fathan Rabi’ yang berhasil tim militan,co dapatkan.

Arif Fathan Rabi’, atau yang lebih dikenal dengan Arif lahir di Mlagen, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, pada tanggal 18 Juli 1996. Arif bukanlah seseorang yang lahir dari keluarga kaya raya, tetapi terlahir dari keluarga yang sederhana. Walaupun terlahir dari keluarga yang sederhana, tidak memutus cita-citanya untuk melanjutkan studi di UIN Walisongo Semarang. Tekad untuk menggapai cita-citanya tidak tumbang karena keadaan finansial yang tertimp

Jenjang pendidikan terakhir yang ditempuh di SLTA yaitu lulusan dari MA Darul Huda Mlagen Kabupaten Rembang, lulus tahun 2015. MA Darul Huda yang berada di Kecamatan Pamotan ini juga tergabung dengan jenjang pendidikan MTs. Lelaki yang kerap di sapa Bangle ini menempuh pendidikan selama tiga tahun di MA Darul Huda. Berpendidikan dari MA tidak terlepas dari kemampuan dalam berbahasa Arab dan religiusnya yang merupakan mata pelajaran wajib di setiap Madrasah Aliyah. Kemampuan Bahasa Arab dalam mengaplikasikan di kehidupan sehari-hari, maupun dalam bentuk tulisan sangat baik.

Menjadi seorang mahasiswa di Semarang bukanlah hal yang mudah dalam menjaga keimanan, apalagi jika kita tinggal di kost atau mengontrak, keimanan seseorang akan tergoyak dan terombang-ambing. Karena kebebasan kehidupan di luar, orang yang imannya tidak dapat mengontrol akan terbawa kehidupan yang penuh dengan kemaksiatan berada di sekitar kita. Oleh sebab itulah lelaki berambut cepak ini di Semarang Memilih Tinggal di sebuah Pondok Pesantren Daar Al Qalam, atau sering disebut juga sebagai  rumah perkaderan Monash Institute yang beralamat di Jalan Tanjungsari Barat I, Monash Institute ini merupakan pondok hafalan Al Quran. dan dari sinilah seorang Arif Fathan Robi memulai usaha sebagai peternak lele.

Arif Fathan  memulai usaha beternak lele, awal mulanya mengurusi lele-lele milik pengasuh Monash Institute. Tidak lama kemudian Bang Lele memulai berternak lele sendiri, ketika membeli bibit lele untuk pertama kalinya, Abang lele langsung membeli 1.000 ekor anak lele(benih/bibit) untuk di ternakkan di kolam. Memanfaatkan lahan yang ada di Monash Institute untuk dijadikan pembudidayaan lele oleh pemuda yang berambut cepak tersebut.

Sebagai seorang pengusaha pasti mengalami adanya untung dan rugi, halang rintang yang seperti itu dalam melakukan usahanya terkadang menjadi hal yang luar biasa, jika tidak mengalami keuntungan selama usaha yang dijalaninya. Arif juga mengaku bahwa pihaknya dulu pernah gagal dalam budidaya lele ini berkali-kali. Namun hal itu tidak memupus semangatnya untuk berwira uaha.

“Jika seseorang ingin memulai usaha dalam bidang apapun harus siap(berani) menanggung kerugian ataupun resiko di dalam usahanya”, kata Arif Fathan.

Pemuda yang berambut cepak itu membudidayakan lelenya ada beberapa jenis, tetapi kebanyakan lele djumbo, karena jenis lele ini mudah di budidayakan dan waktu panennya pun cukup cepat di banding jenis lain. Lele jenis ini dalam perkembangannya cukup cepat apabila di beri makan secara teratur dua kali dalam sehari. Walaupun mahasiswa semester 7 itu tidak menghasilkan 100% pada panen lele pertamanya, tapi ini hasil yang bagus karena ini panen pertamanya. Hasil panen pertamanya sekitar 60 Kg, perkilogramnya dijual Rp. 24.000.

Sebagai mahasiswa yang juga berternak lele, hasil penjualannya di gunakan untuk keperluan usaha dan yang lain. Beberapa bulan kemudian bang lele menambahkan budidaya ikan nila, ia membeli yang masih bibit dan juga yang sudah ukuran dewasa. Ikan Nila yang dapat dijadikan sebagai ikan hias maupun konsumsi ini memiliki nilai jual lebih tinggi dibanding lele. Akan tetapi dalam pembudayaannya pun cukup sulit, dikarenakan daya tahan tubuh ikan nila tidak sekuat ikan lele.

Mahasiswa semester 7 ini memiliki pendapatan yang cukup tinggi, dan usaha peternakan sudah berjalan dengan baik. Untuk sekarang ini bang lele sudah banyak pelanggan yang memesan lelenya di daerah Semarang. Perjuangan yang telah ditempuh untuk membudidayakan lele tidak sia-sia, kerugian yang telah pernah terjadi pun sudah terbayar sudah. Kemampuan berwirausahanya harus di pelajari oleh kalangan pengusaha muda-muda yang baru memulai usahanya. Bang lele juga mulai membuat usaha lain selain berternak lele. (Mochamad Faqih)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here