Pojok Kampus Prototipe Ulama-Umara

Prototipe Ulama-Umara

43

Pesta demokrasi 2019 telah usai. Beberapa hari yang lalu, rakyat Indonesia dihadapkan dengan hari penentu untuk Indonesia lima tahun mendatang. Hingga kini, media telah merilis hasil quick count, exit poll, dan real count dari lembaga-lembaga survei, baik yang dari internal kontestan Pemilu maupun lembaga independen. Namun demikian, keputusan akhir yang mengikat tetap menunggu rilis resmi hasil tabulasi manual dari KPU RI.

Sebagaimana diyakini banyak orang, kedua pasangan calon presiden dan wakil presiden 2019 merupakan putra terbaik bangsa Indonesia. Tak heran, keempat tokoh tersebut akan selalu disoroti masyarakat terkait 2 figur yang sudah lazim berkembang di negara yang mayoritasnya beragama Islam; figur ulama dan umara. Dilema antara memlih umara yang ulama atau ulama yang umara.

Berbeda di pilpres sebelumnya, wacana tentang sosok ulama-umara justru mencuat lebih banyak tanggapan dan respon di pilpres 2019 ini semenjak KH. Ma’ruf Amin dideklarasikan sebagai cawapres, mendampingi Presiden Joko Widodo. Maklum saja, sebagaimana yang dikenal, sosok Ma’ruf Amin adalah ulama yang mempunyai kapasitas keilmuan yang tidak diragukan lagi, bahkan sekarang ini Ma’ruf Amin masih menjabat sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI). Namun, di luar dari pembahasan meriahnya konstelasi politik 2019, prototipe sosok  ulama-umara selalu menjadi perbincangan beberapa orang.

Ulama Berjiwa Umara

Ulama dalam hal ini adalah orang yang mempunyai wawasan ilmu agama yang luas dan menjadi panutan seluruh umat. Pemimpin agama yang mengemban tugas sebagai pengayom, pembina dan pembimbing umat islam baik masalah ubudiyyah dan muamalah. Namun arti ulama tersebut kemudian diserap dalam bahasa Indonesia yang maknanya menjadi orang yang ahli ilmu agama Islam.

Dalam kitab Ihya’ Ulumuddin, Imam Ghazali mengulas tipologi ulama, sebagai berikut: “Ketahuilah! bahwa yang patut atau pantas disebut ulama ialah orang yang makananannya, pakaiannya, tempat tinggalnya (rumah) dan hal- hal lain yang berkaitan dengan kehidupan duniawi, sederhana, tidak bermewah-mewahan dan tidak berlebihan dalam kenikmatan.” Ulama berjiwa umara yang dimaksudkan adalah ulama yang pengaruhnya bukan hanya di lingkup jamaahnya saja, tetapi juga mampu mengekspresikan gagasan-gagasan untuk dijalankan oleh para penguasa.

Ulama yang berjiwa umara sangat diperlukan di lingkungan pemerintahan. Bagaikan permainan sepak bola, ulama berperan sebagai wasit yang bertugas memantau para elite politik dalam menjalankan tugas negara. Dalam hal ini,  ulama harus mempunyai kemampuan dan kapasitas yang bahkan lebih baik dari pada pemain di lapangan. Kualitas yang baik membuatnya diterima di kalangan elite politik. Perangainya yang baik ditambah kemampuan “umaranya” menjadikan mudah baginya utk meluruskan politisi yang sudah keluar dari jalur agama. Keduanya sama-sama memiliki pengaruh yang luar biasa, maka tidak heran jika peran ulama selalu tak pernah jauh dari pesta demokrasi negeri ini. Tugas seorang ulama bukan hanya mengurusi rakyat, tetapi juga penguasa atau pemimpin negara.

Umara Berjiwa Ulama

Umara merupakan bentuk jamak dari aamir yang berarti penguasa atau pemimpin. Umara mempunyai arti yang sepadan dengan kata ulu al-amri, yang mempunyai atau memegang urusan. Umara yang baik adalah umara yang selalu mengedepankan moral dan nilai- nilai yang berlaku dilingkungan masyarakat. Umara berjiwa ulama bisa diartikan dengan umara yang memiliki sifat hanif dalam dirinya sehingga mampu membawa sebuah negara menjadi negara yang baik dan makmur sesuai visi yang termaktub dalam Alquran, baldatun thayyibatun wa rabbun ghaffur.

Dalam sejarah Islam, umara berjiwa ulama ini bisa dilihat dari beberapa sosok pemimpin sukses, di antaranya Shalahuddin Al Ayyubi, Sultan Mehmed II atau biasa dijuluki al-Fatih, Sang Pembebas Konstantinopel. Al Fatih adalah panglima perang yang jiwanya cenderung pada kebenaran. Dalam mempimpin pasukannya, hal-hal yang bersifat ubudiyah selalu dinomersatukan.

Sebagai pemangku kebijakan publik, umara tidak boleh menafikan peran ulama. Keduanya harus mampu berupaya mewujudkan perdamaian di kehidupan bernegara. Kesatuan antara dua entitas itu sesungguhnya telah ada dalam diri manusia paling sempurna, yang tidak lain adalah Baginda Nabi Muhammad SAW. Secara struktural, Muhammad adalah pemimpin “negara madinah”. Muhammad menjalankan peran-peran sebagai pemimpin perang, pemecah masalah keumatan, dan segala otoritas kebijakan dalam memutuskan perkara ada di tangannya.

Ulama dan umara adalah dua figur yang pengaruhnya melebihi apapun. Keduanya mempunyai tugas yang sama, memangku urusan rakyat namun dengan medan berjuang yang berbeda. Jika ulama berkecimpung dalam urusan keagamaan, tabiat dan moral, maka umara mempunyai kekuasan yang dari kekuasaan tersebut melahirkan kebijakan demi kemaslahatan bersama. Namun, terlepas dari tiga prototipe ulama-umara tersebut, sebaik-baik ulama dan umara adalah mereka yang tidak terbesit keinginan dan berorientasi terhadap duniawi di dalam hatinya. Kehebatan ilmu dan kekuasaan tidak lantas menjadikannya budak dunia, karena semua itu adalah amanah dari Tuhan untuk memakmurkan umat dan bangsa.

Sahabat Umar bin Khattab r.a pernah berdoa ketika jabatan khalifah ke-3 jatuh di tangannya, “Ya Allah, jadikanlah dunia di tanganku dan bukan di hatiku.” Menaklukan dunia hanya akan mampu diemban oleh umara yang memiliki jiwa ulama, sedangkan memperbaiki moral dan perilaku umat manusia hanya dapat dibereskan oleh para ulaman yang memiliki jiwa umara. Wallahu a’lam bi al-shawwab.

Kurnia Intan Nabila, Sekretaris Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Iqbal Walisongo Semarang, Ketua Umum PD GPII Surakarta 2017-2019.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here