Pojok Kampus Revolusi Orientasi Ulama dan Umara

Revolusi Orientasi Ulama dan Umara

70

Efektivitas seorang figur yang mempunyai tingkat intelektual tinggi, jabatan dan harta kekayaan melimpah, akan mudah mendapatkan simpati yang spektakuler. Ulama dan umara termasuk di dalamnya. Ulama adalah bentuk jamak dari kata ‘ali<mun, artinya orang yang berpengetahuan. Adapun kata umara adalah bentuk jamak dari ami<run, artinya orang yang memimpin. Mereka mempunyai sinergi dan suportif luar biasa.

Ulama dan umara mempunyai peran egaliter, yaitu megurus rakyat dengan masing-masing peran yang signifikan. Ulama berperan dalam menangani masyarakat secara komprehensif dan ensiklopedis, karena selain sebagai ilmuan ulung, ulama mampu mendobrak masalah yang pelik dengan argumen rasional, logis dan berpedoman kepada al-Qur’an dan hadis.

Ulama Menangani dalam bidang agama, keilmuan, keadilan dan politik. Namun masyarakat banyak yang menilai, bahwa ulama hanya cerdas dalam bidang agama saja. Asumtif tersebut tidak sensibel, karena ulama tidak hanya mendalami bidang ilmu nahwu saja, melainkan mengkaji berbagai hal yang signifikansi dan komprehensif di bidang agama.

Beda halnya dengan umara sebagai pemimpin negara yang bertugas untuk menata negara dengan baik dan perfek, karena telah dibantu oleh para menteri yang bertugas`dalam masing-masing divisi. Kesejahteraan, keadilan, dan kerukunan harus diprioritaskan umara untuk rakyatnya. Umara lebih piawai dalam menata negara serta rakyatnya secara sistematis, cerdas dan bijaksana.

Ulama dan umara harus berkolaborasi satu sama lain demi terwujudnya baldatun t}oyyibatun wa rabbun ghofu<r. Menata, menjaga dan membangun negara yang harmonis, sejahtera dan penuh cinta. Meminimalisir kemiskinan, pengangguran dan meredakan distingsi yang menyebabkan pertiakain hebat.

Keduanya saling mengingatkan dan mengonsolidasikan saat ada persoalan pelik dan mengakar. Ulama yang lebih memahami akan situasi setiap permasalahan, seharusnya lebih  bergas dan afeksi tanpa diminta. Jangan sampai keintelektualannya terkecoh oleh hal duniawi, dan berambisi untuk mendapatka harta, jabatan dan kekuasaan. Karenanya, akan merusak citra sesungguhnya. Sebagaimana Imam al-Ghozali berpendapat dalam kitabnya ih{ya ‘ulu<m al-di<n yang berbunyi Kerusakan rakyat disebabkan oleh kerusakan para penguasa, dan kerusakan  penguasa di sebabkan oleh kerusakan ulama, dan kerusakan ulama disebabkan oleh cinta harta adan kedudukan, dan barang siapa yang dikuasai oleh ambisi duniawi ia tidak akan mampu mengurus rakyat kecil, apalagi penguasanya.”

Sama halnya dengan umara, apabila ada ulama yang tidak sependapat dengan kebijakan negara karena suatu hal, maka ikuti dan dengarkanlah selagi logis,dan rasional. Jangan sampai dieksekusi atau yang serupa lainnya, karena hal tersebut termasuk penghinaan dan tindakan gegabah. Umara yang haus akan nasihat para ulama akan selalu mengunjunginya dan bersikap tawaduk, sama dengan para santri yang khidmat dan patuh.

Hubungan keduanya sangat substansial, sehingga akan tercipta negara yang harmonis dan sejahtera. Saling meredakan ego duniawi, menjaga tali silaturahmi, menyelesaikan masalah secara frontal dan menghindari asumtif negatif antara keduanya yang akan menyebabkan pertikaian.

 

Oleh: Iis Sa’idatul Ulfah, Alumnus IAIN Syekh Nurjati Cirebon Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah Jurusan Ilmu al-Qur’an dan Tafsir

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here